Lakon Panji Winisudo dalam Gebyak Wayang Topeng Malang

  • 17 Nov 2025 09:01 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Di sebuah kerajaan bernama Jenggolo Manik, bertahtalah Prabu Lembu Amiluhur yang memiliki seorang putra bernama Raden Panji Asmoro, suami dari Dewi Sekartaji putri Kerajaan Kediri.

Pada suatu hari, kerajaan sedang menggelar rapat pembahasan pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Rapat itu dihadiri para punggawa kerajaan, termasuk Raden Panji dan Dewi Sekartaji.

Saat rapat berlangsung, datanglah utusan dari Negeri Sabrang, yaitu Patih Suro Noto, utusan Prabu Klono Sewandono, yang membawa maksud buruk: merebut Dewi Sekartaji untuk dipersunting oleh rajanya.

Tentu saja Prabu Amiluhur dan para punggawa kerajaan, terutama Raden Panji, sangat marah. Patih Suro Noto bersikukuh ingin membawa Dewi Sekartaji, sehingga pecahlah perang. Patih Suro Noto dikeroyok empat punggawa utama Jenggala yang terkenal sakti hingga akhirnya melarikan diri dan kembali ke Negeri Sabrang untuk melaporkan kekalahannya. Para punggawa kembali ke keraton dan menyampaikan bahwa Patih Suro Noto berhasil diusir dari Jenggola.

Sementara itu di Negeri Sabrang, Prabu Klono Sewandono sedang berpesta pora—minum bir, alimi, mensen, kuntul, dan brendi. Di tengah pesta, datanglah Patih Suro Noto untuk melaporkan kekalahannya serta kegagalannya merebut Dewi Sekartaji. Prabu Klono sangat murka dan berniat menyerang Kerajaan Jenggolo untuk merebut Dewi Sekartaji secara paksa.

Ketika menyusun strategi perang, datanglah Pendito Begawan, guru spiritual Negeri Sabrang. Sang pendito mengatakan bahwa penyerangan langsung tidak akan berhasil. Satu-satunya cara adalah menculik Dewi Sekartaji melalui penyamaran. Dengan kesaktian sang begawan, Prabu Klono diubah wujud menjadi Raden Panji Asmoro, sedangkan Patih Suro Noto disulap menjadi Dewi Ragil Kuning, adik Raden Panji. Mereka berangkat menuju Kerajaan Jenggola, diikuti sang begawan beserta para prajurit Sabrang dari kejauhan.

Di dalam kaputren Kerajaan Jenggolo, Raden Panji dan istrinya sedang menikmati waktu berdua memadu asmara. Saat hendak bersenggama, datanglah Dewi Ragil Kuning—yang sebenarnya Patih Suro Noto dalam penyamaran. Panji menanyakan maksud kedatangannya, dan “Dewi Ragil Kuning” mengatakan bahwa ia ingin mengajak Dewi Sekartaji berjalan-jalan keluar istana.

Dewi Sekartaji menolak, namun “Dewi Ragil Kuning” terus memaksa. Dengan ketajaman mata batin, Panji menyadari bahwa sosok di depannya bukanlah Ragil Kuning yang asli. Takut penyamarannya terbongkar, Patih Suro Noto melarikan diri. Panji mengejarnya hingga keluar istana. Merasa terpojok, “Dewi Ragil Kuning” melawan, dan pecahlah perang. Dengan kesaktian Sampur Sutro Diwonggo, Panji menyabet sosok tersebut hingga kembali ke wujud aslinya—Patih Suro Noto—yang lalu berhasil dikalahkan.

Melihat patihnya tumbang, Panji palsu (Prabu Klono) muncul menghadapi Panji yang asli. Dalam pertempuran, Panji palsu berubah kembali menjadi Prabu Klono Sewandono, namun tetap berhasil dikalahkan bersama seluruh prajuritnya.

Merasa kedua muridnya gugur, Pendito Begawan turun tangan. Ia mengeluarkan kesaktiannya hingga muncul banteng raksasa dan seekor naga untuk menyerang Panji. Namun berkat kesaktian Sampurnya, Panji berhasil membunuh kedua makhluk jadi-jadian itu dan mengalahkan sang begawan.

Panji dan prajurit Jenggala kemudian kembali ke keraton untuk melaporkan kemenangan mereka atas serangan Negeri Sabrang. Di dalam keraton, seluruh punggawa dan keluarga kerajaan—termasuk Dewi Sekartaji—menyambut kemenangan Raden Panji. Atas jasanya membela negeri, Panji dianugerahi kedudukan jumeneng raja Jenggolo, menggantikan Prabu Amiluhur yang telah lanjut usia. Dengan demikian, keadaan Kerajaan Jenggolo kembali tenteram dan sejahtera.

Jejak kisah Topeng Darmo Langgeng Jabung

Sanggar Topeng Darmo Langgeng di Gunungjati, Jabung, Malang, berdiri dari sebuah kegelisahan batin yang muncul begitu saja dalam diri Sudarmaji pada awal tahun 2000-an. Sekitar tahun 2002–2003, ia merasakan dorongan kuat yang terus-menerus membawanya memikirkan Topeng Jabung—sebuah kesenian yang pada masa itu telah jauh meredup dan hampir tak lagi terdengar gaungnya. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak memiliki kedekatan dengan seni topeng.

Namun pikiran tentang topeng seolah memanggil tanpa henti, hingga akhirnya ia memberanikan diri menemui Ki Ahmadi atau Mbah Mad, seorang seniman sepuh Jabung yang dikenal sebagai dhalang wayang kulit, dalang topeng, sekaligus mantan pemain ludruk dan wayang orang. Dari perbincangan panjang dengan Mbah Mad inilah tekad untuk membangkitkan kembali Topeng Jabung mulai tumbuh.

Upaya awal tidak mudah. Mbah Mad berusaha menghubungi para sesepuh dan pemain lama, namun pertemuan yang direncanakan kerap tertunda berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Meski begitu, Sudarmaji tidak pernah berhenti berharap. Ia terus menjaga komunikasi, mencari kabar, dan mencoba menemukan kembali jejak para pemain yang telah lama berhenti. Hingga pada tahun 2004, titik terang mulai muncul ketika beberapa tokoh penting seperti Pak Parjo dan Pak Mesdi berhasil dikumpulkan di rumah Mbok Ji Waseni di Boro, Jabung—tempat sederhana yang kemudian menjadi pusat latihan sanggar sampai sekarang.

Kebangkitan Topeng Jabung semakin menemukan bentuknya ketika secara kebetulan Sudarmaji berbincang dengan seorang rekan sopir angkot yang ternyata pernah belajar topeng kepada Pak Mesdi. Dari obrolan santai itu lahir tekad bersama untuk mencari kembali teman-teman lama yang pernah berlatih topeng, sekaligus mengajak generasi baru. Mereka mulai menghubungi para pemuda yang dulu pernah ikut latihan di rumah Pak Mesdi, sementara Sudarmaji terus menghubungi para sesepuh untuk meminta restu.

Pada akhir tahun 2004, latihan resmi kembali dimulai setiap malam Selasa Kliwon menuju Rebo Legi, dipandu oleh pelatih tari Witogo, dibantu oleh Pak Rujikan, dan dipimpin oleh Mbah Ahmadi sebagai dalang dengan lakon Sido Lanang. Dari sinilah komunitas baru Topeng Jabung tumbuh dengan lebih solid, penuh semangat, dan memiliki arah yang jelas.

Perjalanan panjang itu akhirnya mencapai puncak pada 28 Agustus 2005 ketika digelar gebyak pertama dengan lakon Rabine Ronggo. Pertunjukan tersebut dipimpin oleh Mbah Rusnadi dari Wiloto bersama putranya, Pak Susanto dari Tamiajeng, Tumpang.

Pada momentum inilah nama “Darmo Langgeng” resmi disematkan sebagai harapan agar kesenian topeng ini dapat hidup terus-menerus, tidak padam lagi seperti sebelumnya. Setelah gebyak perdana itu, sanggar mulai mendapat undangan pentas dari berbagai tempat. Mereka setidaknya telah tampil sekitar tujuh hingga delapan kali—kemungkinan lebih—membawakan lakon-lakon Panji seperti Rabine Gunungsari, Panji Kromo, Joko Pengalasan, Sayemboro Sodo Lanang, dan Walang Sumirang. Ciri khas gerak Topeng Jabung yang lembut namun tegas tetap dijaga, memperlihatkan garis sejarah yang bertautan dengan tradisi Topeng Polowijen melalui hubungan leluhur para empu topeng Jabung dan Malang.

Darmo Langgeng tidak hanya sekadar sanggar pertunjukan, tetapi ruang pelestarian budaya yang bertumpu pada kesederhanaan, ketekunan, dan gotong royong. Latihan selalu dilakukan di rumah Mbok Ji Waseni yang sederhana, tanpa fasilitas berlebih, namun penuh semangat dan keuletan. Bagi Sudarmaji, melestarikan topeng bukan hanya tentang menjaga pertunjukan, tetapi menjaga nyala ingatan kolektif masyarakat Jabung, menyambung kembali garis tradisi yang terputus, dan memastikan generasi muda mengetahui akar budayanya.

Sosok Sudarmaji menjadi motor kebangkitan Topeng Jabung modern. Ia bukan keturunan pemain topeng, bukan pula tokoh formal dunia seni. Namun dari kegelisahan kecil dalam hati, ia mampu membangun kembali sebuah tradisi besar yang nyaris hilang. Usahanya mengumpulkan sesepuh, menyatukan para pemain lama, mencari murid baru, menjaga ruang latihan tetap hidup, hingga menggelar gebyak pertama menjadi bukti bahwa tradisi dapat bangkit kembali dari tangan orang yang sungguh-sungguh mencintainya.

Hingga kini, Sanggar Topeng Darmo Langgeng Gunungjati – Jabung tetap bertahan sebagai benteng seni Topeng Malang gaya Jabung. Dari rumah kecil di Boro hingga panggung-panggung desa, dari latihan malam hingga pentas-pentas Panji, sanggar ini memastikan bahwa warisan leluhur tidak hanya dikenang, tetapi terus hidup, menari, dan mengalir ke generasi berikutnya.

Penulis : Isa Wahyudi (Ki Demang)

Penggagas Kampung Budaya Polowijen

Kandidat Doktor Psikologi Budaya UMM

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....