Cerita Panji Gumarang dalam Gebyak Wayang Topeng Malang

  • 15 Nov 2025 18:56 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Hari Raya Wayang Topeng Malang - Dalam Gebyak Wayang Topeng yang di gelar selama 2 hari acaranya sangat ramai meriah dan banyak sekali pengunjungnya. Patut disyukuri ini bisa jadi momentum bersama perayaan wayang topeng di gelar dengan melibatkan 10 group wayang topeng yang ada dan paling eksis di Malang. Selain sebagai upaya pelestarian Warisan Budaya Tak Benda Indonesia juga sebagai peringatan hari topeng.

Pada hari pertama menampilkan lima kelompok dengan kekayaan kisah Panji selain Sanggar Madyo Utomo dari Pijiombo, Wonosari dengan lakon “Sekartaji Boyong”; dilanjutkan dengan Wayang Topeng Dharmo Langgeng dari Gunungjati, Jabung dengan lakon “Panji Wisuda”; Wayang Topeng Sailendra dari Kranggan, Ngajum pimpinan Dasiyo membawakan “Sinta Murca”; Sanggar Bayu Candra Kirana dari Senggreng, Sumberpucung pimpinan Hadi Siswanto dengan lakon “Klono Percuno”; serta Sanggar Condro Kirono dari Jambuwer, Kromengan pimpinan Sumarsono dengan kisah legenda “Kayu Apyun.”

Pementasan hari kedua dari Padepokan Topeng Asmoro Bangun Kedungmonggo, Pakisaji, pimpinan Tri Handoyo yang membuka pertunjukan dengan lakon “Ronggeng Roro Tangis.” Selanjutnya, Sanggar Wayang Topeng Madyo Laras dari Jatiguwi, Sumberpucung, pimpinan Susilo Hadi yang membawakan lakon “Lembu Gumarang.” Disusul Sanggar Ngesti Pandowo dari Lowokpermanu, Pakisaji, pimpinan Riono dengan lakon “Petruk Sugih”, serta Sanggar Mantraloka dari Desa Kemantren, Jabung bersama komposer Deva Akbar melalui lakon “Wayang Menak.” Tak ketinggalan, Padepokan Mangun Dharma dari Tulus Besar, Tumpang, pimpinan Ki Soleh Adi Pramono menampilkan lakon “Asal-Usule Pring”

Kutukan Dewi Walang Wati dan Panji Walang Sumirang

Panji Gumarang yang Disajikan oleh Group Wayang Topeng Madyo Laras Jatiguwi – Sumberpucung, Malang dalam gebyak wayang topeng Malang di Bon Pring Desa Wisata Sanankerto Turen Malang dalam Festival Ekraf 8-9 Novemner 2025 dalam rangka Indonesia Creatif City Festival di Kota Malamg Kabupaten Malang dan Kota Batu

Hadirnya cerita tentang Panji Gumarang dalam gebyak wayang topeng Malang mengangkat kisah tragis-mistis dalam siklus Panji yang jarang dipentaskan, namun sarat nilai moral, spiritual, dan simbolik. Cerita bermula dari kecantikan Dewi Walang Wati, putri raja yang terkenal ayu rupawan bak cahaya rembulan.

Parasnya yang menawan mengundang banyak raja dan ksatria dari berbagai kerajaan datang untuk meminangnya. Khawatir akan terjadi kekisruhan dan perebutan yang membawa petaka, sang ayah memutuskan untuk menyembunyikan Dewi Walang Wati di sebuah gua jauh di tengah hutan, ditemani adik laki-lakinya, Panji Walang Semirang, yang ditugasi sebagai penjaga.

Namun malapetaka datang ketika roh jahat merasuki Walang Semirang. Dalam keadaan gelap kesadaran, ia tergoda untuk memiliki kakaknya sendiri. Perbuatan terlarang itu memancing kemurkaan ayahnya, seorang raja yang memiliki kekuatan spiritual tinggi. Dalam amarah yang tak terbendung, sang raja menjatuhkan kutukan kepada kedua anaknya:

Panji Walang Semirang berubah menjadi banteng raksasa yang liar dan garang, dikenal sebagai Gumarang, sementara Dewi Walang Wati berubah menjadi seekor laler ijo, jelmaan lalat hijau yang melayang tanpa tujuan. Kutukan ini bukan hanya hukuman, tetapi juga ujian moral dan spiritual bagi keduanya.

Berita tentang kemunculan banteng raksasa Gumarang segera menyebar. Banyak raja, ksatria, dan pendekar berusaha menundukkan Gumarang demi menghapus kutukan dan memenangkan cinta sang putri. Namun satu per satu mereka gagal, terhantam keganasan dan kekuatan magis sang banteng kutukan.

Hingga akhirnya datanglah Raden Parang Kusuma, ksatria muda berbudi luhur yang terkenal karena keluhuran wataknya dan kejernihan batinnya. Berbeda dari para ksatria sebelumnya yang hanya mengandalkan senjata dan keberanian, Parang Kusuma melawan Gumarang dengan ketekunan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan. Dalam pertarungan sengit yang melibatkan tenaga, mantra, dan laku spiritual, ia berhasil menaklukkan Gumarang tanpa membinasakannya.

Dengan tersungkurnya Gumarang, kutukan pun perlahan terlepas. Panji Walang Semirang dan Dewi Walang Wati kembali ke wujud manusia, menyadari bahwa cobaan yang mereka alami adalah perjalanan untuk membersihkan diri dari kegelapan hati dan mengembalikan keharmonisan keluarga.

Lakon Panji Gumaran menjadi gambaran bahwa hawa nafsu dan ketidakmampuan menjaga kesucian batin dapat melahirkan bencana, sementara ketulusan, kebijaksanaan, dan keberanian sejati mampu memulihkan kehormatan serta mengembalikan tatanan kehidupan.

Wayang Topeng Jatiguwi dari Amisandi Budoyo Hingga Madyo Laras

Dari Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang Wayang Topeng Madyo Laras Jatiguwi adalah salah satu kelompok seni topeng Malang yang tumbuh dari akar tradisi pedesaan di wilayah Sumberpucung, sebuah kawasan yang sejak dulu menjadi perlintasan budaya di sisi barat Gunung Kawi. Sanggar ini menjadi penerus tradisi topeng tua yang diwariskan oleh leluhur Jatiguwi, terutama oleh Mbah Raspan dan Mbah Madyo, dua sosok sepuh yang sejak dulu dikenal masyarakat sebagai penjaga ilmu tari dan pembawa lakon Panji di wilayah tersebut.

Menurut kesaksian para sesepuh, topeng Jatiguwi dahulu berkembang kuat melalui garis pewarisan Mbah Raspan–Mbah Madyo, yang kemudian melahirkan generasi-generasi penari berikutnya. Pada masa Mbah Raspan nama group wayang topeng Amisandi Budoyo dan di masa Mbah Madyo baru berubah mana menjadi group wayang topeng Madyo Laras.

Salah satu ikon penting Jatiguwi yang mewarnai sejarahnya adalah Topeng Patih Putih Kembar, sebuah karakter langka yang konon dahulu berguru pada sosok Mbah Gurawan, maestro topeng tempo dulu yang disegani. Karakter Patih Putih Kembar ini menjadi ciri khas yang membedakan Jatiguwi dari gaya-gaya topeng Malang lain—geraknya tegas namun tetap halus, mengedepankan sikap patuh, kepemimpinan, dan keteguhan moral. Selain itu, Jatiguwi juga pernah memiliki penari Klono legendaris, yaitu Pak Radi, yang terkenal karena topeng Klononya yang dicat prodo emas. Topeng bersejarah itu kini tidak lagi berada di Indonesia karena dibawa ke Belanda pada masa lalu, tetapi kisahnya tetap hidup sebagai memori kultural masyarakat Jatiguwi.

Ciri gaya Jatiguwi berada dalam wilayah “madyo”—tengah, moderat, tidak terlalu keras namun juga tidak sepenuhnya halus. Gerakannya berdiri di antara karakter Brang Kulon dan Brang Wetan, tetapi dengan kekhasan lokal yang kuat. Bapang Jatiguwi, misalnya, mirip dengan gaya Jambuwer, namun memiliki sentuhan khas berupa unsur pencak silat pada beberapa bagian geraknya. Pola langkah yang sedikit menghentak, gerakan bahu yang lebih dinamis, dan penggunaan tenaga yang stabil menjadikan gaya Jatiguwi mudah dikenali. Selain itu, Tari Patih Kembar menjadi salah satu ikon yang melambangkan identitas gerak Jatiguwi—sebuah tari yang menonjolkan keselarasan, dualitas, dan kekuatan karakter pemimpin.

Repertoar Madyo Laras Jatiguwi tetap berakar pada kisah Panji sebagai inti Wayang Topeng Malang. Lakon-lakon seperti Lembu Gumarang, Panji Laras Adu Jago, Jenggala Bangun Candi, Panji Reni, Celeng Damalung, Ronggeng Roro Jiwa Roro Tangis, Umbul Umbul Mojopuro. Lakon agraris Lembu Gumarang menjadi sajian utama yang menunjukkan keluwesan gerak dan kekuatan ekspresi khas Jatiguwi. Di sejumlah kesempatan, sanggar ini juga menampilkan cerita cerita tentang Sighasari dan Majapahit dengan tetap mempertahankan rasa Malangan dalam setiap tokohnya.

Dalam kehidupan sosial Jatiguwi, topeng bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari ritus desa—mulai dari sedekah bumi, ruwatan, bersih desa, hingga hajatan keluarga besar. Sanggar Madyo Laras menjadi ruang berkumpulnya warga lintas generasi: para sesepuh yang menjaga pakem, para pemuda yang membawa energi baru, hingga anak-anak desa yang belajar mengenal identitas budaya mereka. Latihan rutin dan pentas desa menjadi napas utama keberlanjutan sanggar ini.

Topeng Jatiguwi yang di gerakkan oleh Deris S. Arifianto, seorang penari topeng yang merupakan cucu dari Mbah Madyo dan meneruskan warisan Topeng Jatiguwi dari Buyut Raspan di Malang

Mengajak banyak anak laki laki sebagai wayang topeng diantaranya Okha Aditya Pratama , Ezhar Alsaf Ainurahman, Aitama Akbar, Zaenal Arifin, Alfaro Krisna P, Bisman Sadita, Yusuf, Virriya Yoga, Diki Hawijaya, Maysege, Sandy Purnama S, Irfandi, Fathur, Panji bimantara, Dandi, Dimas, Evan Ari dan beberapa anak perempuan lainnya.

Kini, Wayang Topeng Madyo Laras Jatiguwi menjadi representasi penting topeng Malang di wilayah Sumberpucung. Di tengah perubahan zaman, mereka tetap menjaga nilai-nilai leluhur: pakem gerak, karakter topeng, filosofi Panji, serta ajaran kebajikan yang diwariskan Mbah Raspan dan Mbah Madyo. Dengan semangat nguri-uri kabudayan, Madyo Laras menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini—menjadikan topeng bukan hanya hiburan, tetapi identitas, memori, dan kebanggaan masyarakat Jatiguwi.

Penulis : Isa Wahyudi (Ki Demang), Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Kandidat Doktor Psikologi Budaya UMM

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....