Petruk Sugih dalam Gebyak Wayang Topeng Malang
- 15 Nov 2025 11:29 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Topeng Malang dalam Festival Ekraf - Sanggar Topeng Ngesti Pandawa Lowok Permanu tampil dalam Gebyak Wayang Topeng 8-9 November 2025 di Boon Pring Sanankerto Turen pada Festival Ekraf & ICCF 2025. Tampilnya Ngesti Pandawa sebagi bentuk keterlibatan bahwa seni pertunjukan mampu menggerakkan sub sektor ekonomi kreatif lainnya. Momentum ini penting karena baru baru saja Kota Malang masuk dalam jaringan Unesco sebagai kota kreatif dunia untuk media arts yang sejatinya malang sebagai culture apapun menjadi bagian bersama.
Dalam Gebyak Wayang Topeng yang di gelar selama 2 hari acaranya sangat ramai meriah dan banyak sekali pengunjungnya. Pada hari pertama menampilkan lima kelompok dengan kekayaan kisah Panji selain Sanggar Madyo Utomo dari Pijiombo, Wonosari dengan lakon “Sekartaji Boyong”; dilanjutkan dengan Wayang Topeng Dharmo Langgeng dari Gunungjati, Jabung dengan lakon “Panji Wisuda”; Wayang Topeng Sailendra dari Kranggan, Ngajum pimpinan Dasiyo membawakan “Sinta Murca”; Sanggar Bayu Candra Kirana dari Senggreng, Sumberpucung pimpinan Hadi Siswanto dengan lakon “Klono Percuno”; serta Sanggar Condro Kirono dari Jambuwer, Kromengan pimpinan Sumarsono dengan kisah legenda “Kayu Apyun.”
Pementasan hari kedua dari Padepokan Topeng Asmoro Bangun Kedungmonggo, Pakisaji, pimpinan Tri Handoyo yang membuka pertunjukan dengan lakon “Ronggeng Roro Tangis.” Selanjutnya, Sanggar Wayang Topeng Madyo Laras dari Jatiguwi, Sumberpucung, pimpinan Susilo Hadi yang membawakan lakon “Lembu Gumarang.” Disusul Sanggar Ngesti Pandowo dari Lowokpermanu, Pakisaji, pimpinan Riono dengan lakon “Petruk Sugih”, serta Sanggar Mantraloka dari Desa Kemantren, Jabung bersama komposer Deva Akbar melalui lakon “Wayang Menak.” Tak ketinggalan, Padepokan Mangun Dharma dari Tulus Besar, Tumpang, pimpinan Ki Soleh Adi Pramono menampilkan lakon “Asal-Usule Pring”
Lakon Petruk Sugih, Digdoyo tanpo Aji Menang Tan Ngasorake
Dalam dunia pewayangan Jawa, kisah “Petruk Sugih” dikenal sebagai lakon yang menempatkan para Punakawan—Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar—dalam pusaran cerita besar Mahabharata versi Jawa. Cerita dimulai ketika jagat kahyangan diguncang oleh hilangnya tiga pusaka utama: Cakra, Jimad Kalimasada, dan Keris Kolo Welang. Hilangnya pusaka itu membuat para dewa resah dan para Pandawa cemas, karena keseimbangan dunia bergantung pada keberadaan ketiganya.
Di saat kegemparan itu terjadi, beredar kabar bahwa Petruk mendadak menjadi kaya raya. Kabar ini menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan di kalangan para dewa. Kresna, Narada, dan Bima turun tangan mendatangi Petruk. Mereka mempertanyakan sumber kekayaan itu, bahkan Narada menuduh Petruk sebagai pencuri pusaka, karena perubahan hidupnya yang begitu drastis. Petruk dengan rendah hati membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa kekayaannya berasal dari jerih payahnya, bukan dari mencuri pusaka para Pandawa.
Namun Narada tetap bersikukuh. Fitnah pun berubah menjadi konflik terbuka.
Terjadi cekcok dan perkelahian antara Petruk dan Narada. Dalam benturan tenaga sakti itu, Petruk terpental jauh hingga jatuh di Pertapaan Cemoro Sewu, mengalami mati suri dan kehilangan kesadaran. Di tempat sunyi inilah ia ditemukan oleh Begawan Sosrondanu, seorang pertapa sakti yang kemudian menghidupkannya kembali. Sang begawan memberikan wejangan agar Petruk tidak membalas fitnah dengan amarah, tetapi dengan laku—jalan batin untuk menegakkan kebenaran.
Setelah memulihkan diri, Petruk diperintah menuju kahyangan untuk menanyakan langsung keberadaan pusaka yang hilang. Namun para dewa juga tidak mengetahui ke mana tiga pusaka itu pergi. Dari kahyangan, Petruk diarahkan ke Pertapaan Begawan Kalingga di wilayah Suku Krantil, tempat ia diharapkan menemukan petunjuk lebih lanjut.
Di hadapan Begawan Kalingga, Petruk diminta mengubah identitasnya menjadi “Putut Joyo Lelono”, sebagai bentuk penyamaran agar terlepas dari fitnah dan agar perjalanan pencarian berlangsung tanpa hambatan. Ia juga diperintahkan untuk mendirikan jejer—yakni meneguhkan tekad, pendirian, dan kejernihan hati—sebelum memulai perjalanan mencari ketiga pusaka suci yang hilang.
Dengan nama baru itu, Petruk melakukan pengembaraan panjang demi memulihkan kehormatannya serta mengembalikan pusaka yang menjadi penopang keluarga Pandawa dan keseimbangan dunia. Lakon ini memuat pesan mendalam bahwa kebenaran tidak selalu datang dari mereka yang kuat dan berkuasa; sering kali ia justru lahir dari kejujuran dan kelurusan hati seorang abdi yang sederhana.
Dalam Gebyak Wayang Topeng di Boon Pring Desa Wisata Sanankerto, Turen, Sanggar Topeng Ngesti Pandawa Lowok Permanu menghadirkan lakon ini sebagai bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Kreatif Kabupaten Malang sekaligus memeriahkan agenda nasional Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, menjadikan kisah Petruk Sugih bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat masa kini.
Timeline dan Akar Historis Topeng Lowok Permanu
Asal-Usul Tradisi Topeng di Lowok Permanu. Tradisi topeng di Dusun Lowok Permanu berawal pada tahun 1940-an, ketika masyarakat desa membeli seperangkat topeng dari seorang seniman topeng dari Rampal yang ternya tepeng tersebut adalah buatan dari Polowijen, yaitu Bapak Pattawi, murid langsung Empu Topeng Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) dari Polowijen. Dalam pembelian itu disepakati bahwa Pattawi harus mengajarkan tari topeng dan teknik pembuatan topeng kepada warga Lowok. Kesepakatan ini memulai rangkaian latihan yang menghidupkan kesenian topeng sebagai bagian penting kehidupan sosial desa.
Jejak Polowijen dan Ilmu Warisan Mbah Reni. Melalui Pattawi, dasar-dasar tradisi Polowijen masuk ke Lowok: teknik menatah kayu, mewarnai topeng, dan membangun karakter Panji, Gunungsari, Sabrang, Klono serta tokoh lainnya. Pengaruh Polowijen memberikan bentuk gerak yang tegas, struktur koreografi yang rapi, dan cara pandang bahwa topeng adalah wadah nilai moral, bukan sekadar hiburan. Akar Polowijen inilah yang menjadi fondasi awal karakter kesenian Lowok.
Salah satu yang dapat membuat topeng lowokpermanu mirip dengan topeng Polowijen adalah almarhum Sugiat. Ukirannya halus muka topeng lebih hidup dan ragam hias topengnya sangat detail. Beberapa karya alm. Sugiat di simpan oleh Pak Yudhit dan Ki Demang dan lainnya di gunakan untuk menari topeng di Lowokpermanu itu sendiri.
Pengaruh Brang Kidul dan Gaya Kedungmonggo Mbah Karimun. Perkembangan selanjutnya datang dari hubungan kuat dengan pusat tradisi Brang Kidul, terutama melalui Sanggar Topeng Asmorobangun Kedungmonggo, tempat berkiprahnya maestro Mbah Karimun. Pertukaran pemain dan latihan bersama membuat gaya Kedungmonggo masuk ke Lowok: gerak yang lebih halus, lembut, dan penuh wirasa, terutama pada karakter Panji dan Gunungsari. Sementara itu, kekuatan gerak Klono tetap dipertahankan tetapi lebih terkontrol, mencerminkan perpaduan dua garis tradisi: ketegasan Polowijen dan kelembutan Kedungmonggo.
Peresmian Sanggar Ngesti Pandawa (1954). Setelah lebih dari satu dekade latihan dan pertunjukan rakyat, warga akhirnya menata kelompok kesenian ini menjadi organisasi resmi bernama Sanggar Topeng Ngesti Pandawa, diresmikan pada 1954. Nama ini mencerminkan cita-cita: ngesti berarti berupaya sungguh-sungguh, sementara Pandawa melambangkan nilai keadilan, kesetiaan, dan laku kebajikan. Sejak peresmian ini, sanggar menjadi pusat kegiatan budaya di Lowok Permanu.
Perkembangan dan Perjalanan dari Masa ke Masa. Pada 1950–1970-an, Ngesti Pandawa aktif tampil dalam bersih desa, mantenan, dan selamatan panen—topeng menjadi bagian dari ritual sosial desa. Memasuki 1980–1990-an, proses regenerasi berjalan baik; sanggar tampil dalam festival kecamatan dan kabupaten, sekaligus menjalin hubungan dengan kelompok topeng lainnya seperti Jatiguwi, Tumpang, Jambuwer, dan Kedungmonggo. Pada 2000-an, sanggar mulai membangun galeri topeng dan memperkuat struktur organisasi. Memasuki 2020-an, sanggar berkembang sebagai pusat edukasi budaya, menerima kunjungan sekolah dan tampil dalam festival besar seperti Gebyak Wayang Topeng Malang.
Ciri Artistik dan Repertoar Pertunjukan. Gaya tari Ngesti Pandawa terbentuk dari perpaduan Polowijen dan Kedungmonggo: gerak yang halus, berwibawa, dan terkontrol, dengan karakter Panji yang lembut dan Klono yang tetap kuat namun tertata. Repertoar yang sering dibawakan antara lain Panji Asmoro Bangun, Raden Gunungsari, Klono, Sabrang dan tokoh tokoh topeng lain, termasuk lakon-lakon Purwa. Penampilan mereka dalam Gebyak Wayang Topeng 2025 melalui lakon Petruk Sugih menunjukkan bahwa tradisi ini tetap hidup dan dinamis.
Jaringan Kolaborasi Seni Topeng Malang Raya. Ngesti Pandawa memiliki jaringan kuat dengan Sanggar Asmorobangun Kedungmonggo (jalur gaya Brang Kidul dan pengaruh Mbah Karimun) serta hubungan genealogis dengan Polowijen melalui Pattawi. Kolaborasi dengan sanggar-sanggar lain di Jatiguwi, Tumpang, dan Jambuwer memperkuat posisi sanggar dalam ekosistem Wayang Topeng Malang yang kaya dan saling menopang.
Ngesti Pandawa juga aktif menghadiri sanggar sanggat topeng kalau sedang menyelenggarakan gebyak wayang topeng entah hanya sebagai tamu atau terkadang ikut terlibat dalam pementasan. Diantaranya ke Padopekan Mangundharmo, Mantraloka, Bayu Candra Kirana, Madyo Utomo, Sailendra, Darmo Langeng, Setyo Tomo, Madyo Laras,
Filosofi, Peran Sosial, dan Pelestarian Kini. Bagi warga Lowok, topeng adalah laku budaya untuk memperhalus batin; Panji mengajarkan kelembutan dan kedisiplinan, sementara Klono mengajarkan pengendalian nafsu. Pementasan topeng selalu menjadi bagian dari ritus desa dan pengikat harmoni sosial. Saat ini Ngesti Pandawa tetap aktif, dengan latihan rutin, galeri topeng tua, dan pembinaan generasi muda melalui kelas tari dan menatah topeng. Sanggar juga menjadi tujuan penelitian dan wisata edukatif, menjaga agar tradisi tetap diwariskan ke masa depan.
Penulis : Isa Wahyudi (Ki Demang) Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Kandidat Doktor Psikologi Budaya UMM
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....