Topeng Mangun Dharmo dan Asal Bambu Bon Pring

  • 12 Nov 2025 08:41 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Kisah “Asal Usule Pring” melalui lakon penutup yang merupakan cerita rakyat kembali dihidupkan melalui panggung Gebyak Wayang Topeng Malang yang digelar pada 8–9 November 2025. Kisah ini sangat cocok karena di pentaskan di kawasan wisata Bon Pring, Desa Wisata Sanankerto, Turen. Pertunjukan ini menjadi bagian penting dalam Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Malang yang bertepatan dengan pelaksanaan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, di mana Malang Raya — Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu — menjadi tuan rumah.

Hari pertama menampilkan lima kelompok dengan kekayaan kisah Panji antara lain Sanggar Madyo Utomo dari Pijiombo, Wonosari dengan lakon “Sekartaji Boyong”; dilanjutkan dengan Wayang Topeng Dharmo Langgeng dari Gunungjati, Jabung dengan lakon “Panji Wisuda”; Wayang Topeng Sailendra dari Kranggan, Ngajum pimpinan Dasiyo membawakan “Sinta Murca”; Sanggar Bayu Candra Kirana dari Senggreng, Sumberpucung pimpinan Hadi Siswanto dengan lakon “Klono Percuno”; serta Sanggar Condro Kirono dari Jambuwer, Kromengan pimpinan Sumarsono dengan kisah legenda “Kayu Apyun.”

Pementasan hari kedua dari Padepokan Topeng Asmoro Bangun Kedungmonggo, Pakisaji, pimpinan Tri Handoyo yang membuka pertunjukan dengan lakon “Ronggeng Roro Tangis.” Selanjutnya, Sanggar Wayang Topeng Madyo Laras dari Jatiguwi, Sumberpucung, pimpinan Susilo Hadi yang membawakan lakon “Lembu Gumarang.” Disusul Sanggar Ngesti Pandowo dari Lowokpermanu, Pakisaji, pimpinan Riono dengan lakon “Petruk Sugih”, serta Sanggar Mantraloka dari Desa Kemantren, Jabung, pimpinan Lyhong bersama komposer Deva Akbar melalui lakon “Menak.” Tak ketinggalan,

Tiba saatnya Padepokan Mangun Dharma dari Tulus Besar, Tumpang, pimpinan Ki Soleh Adi Pramono menampilkan lakon “Asal-Usule Pring” menjadi penampilan terakhir sebagai penutup gebyak wayang topeng Malang dengan durasi paling lama.

Dewi Sri dan Joko Lelono tentang Asal-usul Pring

Kisah “Asal-usul Pring” mengisahkan bagaimana tanaman bambu yang tumbuh subur dan hijau itu berasal dari dunia kayangan. Di kayangan, Betoro Guru memberikan tugas kepada Dewi Sri—sang Dewi Kesuburan—bersama Dewa Wisnu dan Joko Sedono untuk turun ke dunia. Mereka ditugaskan menyebarkan ilmu tentang padi dan pola wijo, yaitu ilmu bercocok tanam yang membawa keberkahan.

Dewi Sri digambarkan sebagai sosok wanita cantik jelita, lambang kelimpahan rezeki. Konon, siapa saja yang dapat bersanding dengannya akan dilimpahi keberkahan dan rezeki melimpah. Karena itulah Dewi Sri menjadi rebutan beberapa tokoh—Bambang Badog Basu, Lembu Gumarang, dan Celeng Sengri—yang ingin memperoleh keberkahan dengan mempersunting sang dewi.

Setelah Dewi Sri menjadi rebutan antara Bambang Badog Basu, Lembu Gumarang, dan Celeng Sengri, ketiganya terus berupaya keras untuk mempersunting sang dewi. Lembu Gumarang, dengan segenap pasukan Sabrangnya, mengejar Dewi Sri hingga ke ujung dunia. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan Joko Sedono, yang kemudian memanah Lembu Gumarang hingga wujudnya berubah menjadi banteng.

Bambang Badog Basu pun tak luput dari nasib serupa. Dalam usahanya yang penuh amarah, ia justru bertemu dengan seorang petani dan istrinya, bukan Dewi Sri. Karena kecewa, ia menendang gubuk petani itu hingga garu dan luku di dalamnya berubah menjadi Resi Bintang. Resi Bintang inilah yang kelak menjadi panduan bagi para petani dalam menggarap sawah mereka.

Sementara itu, Bambang Badog Basu sendiri di panah oleh Joko Sedono dan berubah menjadi ikan loh di perairan. Celeng Sengri pun tak mau ketinggalan memperjuangkan cintanya, tetapi Dewi Sri punya cara lain. Dalam pelariannya, Dewi Sri mencabut sehelai rambutnya yang berubah menjadi tanaman tebu, lalu mencabut rambutnya sekali lagi yang berubah menjadi bambu. Dari sinilah dipercaya asal-usul tanaman pring atau bambu yang kita kenal tumbuh hijau dan subur di dunia.

Akhir dari kisah ini menandai bagaimana Celeng Sengri yang dipanah oleh Joko Sedono pun tubuhnya berubah menjadi berbagai hama tanaman, seperti capuk, lembing, dan walang sangit, yang menjadi tantangan bagi para petani di kemudian hari.Sementara itu, Lembu Gumarang yang dipanah di lehernya, patah dan terbang ke angkasa, berubah menjadi Buto Kala Rawu. Tubuhnya yang lain berubah menjadi lesung dan alu. Dalam mitos ini, Buto tersebut akan mencoba memakan bulan, yang kita kenal sebagai fenomena gerhana. Karena itu, Dewi Sri memanggil masyarakat petani untuk membunyikan lesung, agar Buto tidak memakan bulan dan menjaga keseimbangan alam.

Setelah tugas Dewi Sri dan Joko Sedono menyebarkan ilmu pertanian selesai, mereka pun kembali ke kayangan. Pesan terakhir mereka adalah agar seluruh makhluk hidup di dunia selalu menjaga harmoni antara alam dan manusia, atau dalam bahasa Jawa: “Hamemayu Hayuning Bawana.”

Padeponan Seni Mangun Dharmo dan Ujung Tombak Topeng Malang

Di bawah Pimpinan Ki Soleh Adi Pramono Padhepokan Seni Mangun Dharma (PSMD) yang berada di Desa Tulusbesar Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang padepokan ini merupakan pusat pembelajaran seni daerah Malang yang meliputi seni tari, pedalangan, sinden, karawitan, macapat Malangan, dan seni ukir topeng Malang.

Padhepokan ini didirikan sejak tahun 1989 dengan fokus mengembangkan struktur dalam wayang topeng Malang sehingga mampu menghasilkan pertunjukan wayang topeng Malang yang utuh.

Ki Soleh Adi Pramono sendiri adalah sosok yang layak menyandang seorang maestro Dalang Wayang Topeng sekaligus tokoh seni tradisi daerah Malang—PSMD menjadi salah satu sanggar terbaik di Malang Raya. Beberapa karya tari yang pernah digarap antara lain: Tari Yeg Oyeg, Tari Condromowo, Tari Beskalan Putra, Tari Serimpi Limo, Tari Topeng Grebeg Jawa, Tari Topeng Grebeg Sabrang, dan lain sebagainya.

PSMD juga sering tampil dalam berbagai event besar seperti gebyak topeng, ruwatan massal, dan pagelaran tingkat nasional maupun internasional.

Pada tahun 2023, PSMD menjadi satu dari 10 sanggar terbaik se-Indonesia dalam program 1 Dekade Galeri Indonesia Kaya oleh Bhakti Budaya Djarum Foundation.

Selain itu, PSMD juga aktif mengikuti berbagai festival nasional seperti Kembu Topeng, Festival Budaya Panji, Indonesia Bertutur di Bali, International Mask Festival, dan Gelar Warisan Budaya Tak benda.

Kini PSMD bukan hanya sekedar tempat persemaian seniman seniman muda berbakat tapi sudah menjadi jujugan dan tempat tujuan wisata edukasi seni khas Malang, di mana wisatawan dapat belajar tari, karawitan, mengenal topeng Malang, sekaligus menyaksikan pertunjukan wayang topeng secara langsung. Disinilah sejatinya orang menaruh harapan bahwa pelestarian seni dan tradisi masih hidup dan dinyalakan oleh mereka mereka yang berdedikasi tinggi yang tak kenal lelah menggeluti warisan tradisi.

Penulis : Isa Wahyudi (Ki Demang), Penggagas Kampung Budaya Polowijen.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....