Kembul Topeng #3: Nafas Seni Topeng Malang
- 15 Agt 2025 17:14 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Di tengah arus zaman yang deras dan cepat berubah, seni tradisi seringkali tertinggal di tepian. Namun ada ruang-ruang kecil yang tetap bertahan sebagai tapak pelestarian budaya, tempat di mana ingatan kolektif terus disemai, dan warisan leluhur terus dirawat. Salah satu ruang itu adalah Padepokan Seni Mangun Dharmo, yang selama 36 tahun tak henti menjadi penjaga utama Seni Topeng Malang. Tahun ini, tepatnya pada 26–31 Agustus 2025, bersama dengan Malang Dance Indonesia Padepokan ini kembali membuka pintu melalui perhelatan Kembul Topeng #3, dengan mengusung tema reflektif: “Dulu, Kini, Nanti.”
Lebih dari Sekadar Perayaan
Kembul Topeng bukan hanya agenda tahunan, melainkan sebuah panggilan nurani bagi para pelaku, pencinta, dan pemerhati seni untuk berkumpul, berdialog, dan menyatukan rasa. Melalui besutan Winarto Ekram dan Tri Wahyuningyas anak idiologi Ki Soleh Adi Pramana merangkai kegiatan melalui sarasehan, workshop, pameran topeng, lomba tari dan mewarnai, pertunjukan, hingga nyekar dan umbul dungo untuk sesepuh topeng, event ini menjelma menjadi ritual budaya yang memperkuat akar sekaligus membuka cabang menuju masa depan.
Di tengah kehidupan seni yang kian terfragmentasi, forum semacam ini menjadi penting. Sarasehan, misalnya, memberi ruang dialog dan refleksi atas apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi dalam dunia seni topeng. Workshop membuka kemungkinan baru kreativitas. Pertunjukan menghidupkan kembali semangat kolektif antara penari, pengrawit, dan penonton. Dan ritual nyekar sesepuh bukan sekadar penghormatan, tapi juga pengakuan akan asal-usul spiritual kesenian ini.
Peserta Penyaji: Dari Kampus Seni hingga Sanggar Rakyat
Kembul Topeng #3 menghadirkan penyaji dari berbagai institusi pendidikan seni ternama di Indonesia, menandakan bahwa semangat pelestarian topeng tak hanya hidup di desa-desa, tetapi juga di pusat-pusat akademik seni.
Berikut adalah daftar para penyaji yang turut berpartisipasi: ISI Surakarta, SMKI Surakarta, ISI Denpasar, SMKI Denpasar, ISI Yogyakarta, SMKI Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, ISBI Bandung, STKW Surabaya, UNESA Surabaya, SMKI Surabaya, Universitas Negeri Malang, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jakarta.
Tak hanya dari lingkungan akademik, Kembul Topeng #3 juga menghadirkan beragam komunitas, grup, dan sanggar topeng dari berbagai daerah, seperti: Jakarta, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Jogjakarta, Surakarta, Klaten, Jombang, Malang, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Denpasar, Singaraja, Buleleng, hingga Pacitan.
Keragaman latar belakang ini memperkaya narasi topeng dari perspektif yang berbeda: dari yang sangat tradisional, hingga bentuk-bentuk yang eksperimental dan kontemporer.
Menjawab Kegelisahan Kolektif Seniman
Ada satu kegelisahan besar yang melatarbelakangi munculnya Kembul Topeng #3: terputusnya hubungan antar pelaku seni, serta menjauhnya masyarakat dari kesenian tradisi. Tidak sedikit seniman yang terjebak dalam pencapaian pribadi, kehilangan ruang untuk saling berbagi pengalaman artistik. Sementara di sisi lain, publik kehilangan akses terhadap seni tradisi yang dulu hidup dan tumbuh bersama mereka.
Padepokan Seni Mangun Dharmo dan komunitas Malang Dance Indonesia di bawah besutan tangan dingin Winarto Ekram menyadari urgensi ini. Melalui Kembul Topeng, mereka ingin menjembatani jurang tersebut. Bukan hanya memanggungkan karya, tetapi menciptakan ruang dialektika seni, tempat di mana tradisi dan kontemporer saling bertukar nafas, saling menghidupkan. Kegiatan ini bukan untuk melawan zaman, melainkan mengakrabkan seni tradisi dengan zaman.
“Dulu, Kini, Nanti”: Sebuah Peta Budaya
Tema tahun ini — “Dulu, Kini, Nanti” — bukan sekadar slogan. Ia adalah ajakan untuk menengok jejak, mengevaluasi langkah, dan merancang arah. Dari tradisi yang sakral hingga bentuk-bentuk yang lebih kontemporer, seni topeng telah mengalami transformasi panjang. Namun sejauh apapun ia bergerak, akar selalu penting untuk dipelihara.
Padepokan Mangun Dharmo adalah contoh konkret dari komitmen menjaga akar. Di bawah kepemimpinan Ki Soleh Adi Pramono Penjaga Spirit Sang Topeng, padepokan ini menjadi oase seni topeng, sekaligus laboratorium budaya yang tidak pernah kehabisan energi untuk merawat warisan, mendidik generasi, dan menyatukan lintas komunitas seni.
Kembul Topeng : Antara Asa dan Harapan
Kembul Topeng #3 adalah cermin: ia merefleksikan semangat pelestarian, mengungkap kegelisahan zaman, dan menawarkan harapan. Namun di balik kemeriahan event ini, kita diingatkan bahwa pelestarian tidak cukup hanya dengan perayaan. Perlu keberpihakan nyata dari pemerintah, lembaga budaya, sekolah, dan media untuk ikut menjaga nyala seni topeng.
Pentas yang megah tidak berarti jika tidak dibarengi regenerasi. Workshop dan lomba mewarnai topeng bagi anak-anak dalam event ini adalah investasi kecil namun penting untuk masa depan. Mereka adalah calon pewaris nilai-nilai yang ada dalam setiap gerak dan warna topeng — tentang keselarasan, kesabaran, keindahan, dan spiritualitas Jawa.
Penutup: Ruang Hidup Kesenian Tradisi
Kembul Topeng #3 adalah bukti bahwa seni tradisi belum mati. Ia hanya butuh ruang hidup yang layak, butuh dipertemukan kembali dengan masyarakat yang dulu menjadi rahim kelahirannya. Dan selama masih ada padepokan seperti Mangun Dharmo, masih ada harapan bahwa seni topeng — dalam segala wujudnya: tradisi, modern, dan kontemporer — akan terus menari di tengah denyut zaman.
Mari kita jaga agar topeng tidak hanya menjadi benda pameran atau tontonan, tetapi juga cermin diri, penanda zaman, dan ruh budaya yang hidup di antara kita — dulu, kini, dan nanti.
Ditulis oleh : Ki Demang, Penggagas Kampung Budaya Polowijen
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....