Gunung Gondomayit Pada Masa Jawa Kuno
- 19 Jun 2025 16:55 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Gunung Gondomayit berada di wilayah Desa Ardimulyo Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dari Gunung Gandamayit ± 2.5 km lurus ke arah barat laut terdapat suatu gunung kecil pula bernama Gunung Bret. Dua gunung atau yang lebih sesuai disebut sebagai bukit ini mempunyai riwayatnya sendiri-sendiri di dalam naskah Jawa Kuno.
Nama ‘Gondomayit’ menurut kabar orang-orang di sekitar artinya berbau mayat. Nama ini muncul diduga dilatarbelakangi oleh cerita-cerita orang dahulu yang pernah mendaki bukit tersebut dan pernah mencium bau busuk. Ada pula cerita yang berkembang di sebagian masyarakat Singosari dan bahkan hampir menjadi suatu legenda bahwa di sana tempat makam Kebo Ijo yang terbunuh secara naas oleh Ken Angrok. Pada pokoknya segala macam cerita masyarakat sekitar yang berbau magis dan mistis menambah misteri tentang gunung kecil Gondomayit.
Nama ini sebenarnya sudah sejak lama disebut demikian oleh masyarakat masa Jawa, hanya penyebutan dan pengartiannya jauh berbeda dengan sangkaan masyarakat Jawa sekarang. Nama yang dikenal pada masa lampau adalah Gandamayu, yaitu nama suatu tempat atau istana dalam cerita Jawa Kuno sebagai tempat bersemayam Ra Nini atau Bhatari Durga, sebagaimana yang disebut di dalam sastra Kidung Sudamala pupuh I.50 dan Kidung Sri Tanjung pupuh V.100.
Menurut sastra Jawa Kuno, Gandamayu adalah suatu taman sorga yang dirubah wujudnya menjadi semacam pasetran angker yang diperuntukkan bagi Dewi Uma yang dikutuk oleh Bhatara Guru menjadi raksasi (raksasa perempuan) dengan sebutan Bhatari Durga. Dalam relief candi, seperti terpahat di dinding pendopo teras Candi Penataran dan di Candi Tegawangi, Gandamayu digambarkan berupa hutan lebat dengan makhluk-makhluk menyeramkan (hantu-hantu), di mana Bhatari Durga sebagai penguasanya.
Dalam naskah Tantu Panggelaran disebutkan bahwa ketika Bathari Uma dikutuk oleh Bathara Guru menjadi Bathari Durga, kemudian disuruhnya bertapa di dalam bumi untuk memulihkan wujudnya. Nama tempat bertapanya tidak disebutkan, tetapi tempat keluarnya Bathari Uma sebagai wujud semula adalah Gunung Bret, yang terletak tidak begitu jauh dari Gunung Gandamayit. Dengan demikian, kedua gunung tersebut rupanya merupakan satu kesatuan sebagai suatu tempat yang sakral pada masa Jawa Kuno.
Bagaimana nama Gondomayu bisa berubah menjadi Gondomayi? Perubahan kata dan makna ini dapat ditelusuri dari suatu naskah Jawa Kuno masa pertengahan, yaitu Kidung Panji Margasmara. Dalam Kidung Panji Margasmara pupuh IX 32.b disebutkan ketika Panji Margasmara melarikan diri dari istana wijil tiga tempat tinggal Ken Candrasari, karena ketahuan oleh Adipati Singhasari, Panji Margasmara mengungsi dan bersembunyi di Gandamayi tempat tinggal para abět (pertapa). Selama berada di Gandamayi, Panji Margasmara melakukan pemujaan kepada Ra Nini (Bhatari Durga), di dalam mimpinya Ra Nini menyuruh Panji Margasmara untuk pergi ke pertapaan Kayupuring guna menunggu Ken Candrasari di sana. Pupuh XX 26.b juga menyebutkan ketika Panji Margasmara sudah menjadi patih mangkubhumi di Majapahit, ia bersama istrinya, Ken Candrasari, dan kedua mertuanya, Adipati Singhasari dan Ken Pinatih, serta para pengiringnya melakukan pemujaan dan pesta perayaan di pertapaan Gondomayi.
Menurut kaidah bahasa Jawa Kuno, sebagaimana yang telah disinggung di awal pembahasan, kata Gondomayit itu harusnya dibaca ‘Gondomayu’ sebagaimana yang termaktub di dalam Kidung Sudamala dan Kidung Sri Tanjung. Gondo= Gandha= bau harum/wangi, dan Mayu dari akar kata ‘ayu’= keindahan, kebahagiaan, kesalehan. Di dalam sastra kidung selalu muncul kata varian untuk menyelaraskan guru lagu, sehingga ‘Gondomayu’ bervarian menjadi ‘Gondomayi’. Nama ‘Gondomayu’ ini sebenarnya merupakan varian pula dari nama ‘mandala-wangi’ dan ‘kesturi’, yang semua nama-nama tersebut menunjuk kepada suatu lingkungan mandala pertapaan.
Mandala pertapaan selalu diidentikkan dengan lingkungan yang membawa suasana ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan. Kita ingat akan nama ‘mandala kasturi’ yang tersebut dalam prasasti Widodaren untuk menyebut satuan mandala Kukub. Kita ingat pula akan nama ‘mendalan wangi’ yang asal katanya adalah ‘mandala wangi’. Memang demikian halnya dengan tempat ‘Gandamayi’ yang tersebut di dalam Kidung Panji Margasmara, itu merupakan suatu tempat tinggal para ‘abět’, yaitu sekelompok golongan pertapa yang tinggal pada komunitas tertentu dalam mandala pertapaan. Di dalam Kidung Panji Margasmara dipertegas bahwa di tempat itu Panji Margasmara melakukan pemujaan kepada Ra Nini (Bhatari Durga). Dengan demikian dimungkinkan bahwa ‘Gandamayi’ merupakan mandala pertapaan yang bersifat tantris.
Nama Gondomayi belakangan diucapkan sebagai ‘Gondomayit’ diduga terpengaruh bahasa Arab ‘mayyit’ yang menunjuk kepada jasad/jasmani yang ditinggalkan oleh ruh, dan telah menjadi kata serapan dalam bahasa Jawa Baru. Dalam bahasa Jawa Kuno untuk menyebut jasad yang demikian adalah kuṇapa, laywan (layon), wyasu. Demikian sekilas tentang Gunung Gondomayit. Aura magis mistisnya yang tetap terasa karena tempat itu dahulunya merupakan mandala pertapaan pada masa Jawa Kuno. Secara data faktual masih perlu dicari adanya tinggalan artefak yang berhubungan dengan hunian pertapaan.
Ditulis oleh : Suwardono (Sejarawan Malang, pemerhati Epigrafi dan Filologi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....