Sumber Nagan, Petirtaan Masa Jawa Kuno

  • 30 Mei 2025 08:25 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Sumber Nagan adalah nama sumber air yang terletak di Dusun Biru, Desa Candirenggo, Singosari, Kabupaten Malang, ± 150 m di sebelah utara sumber ‘Boto Rubuh’. Untuk mencapainya bisa melalui jalan aspal, atau bila sudah berada di sumber ‘Boto Rubuh’ bisa menyusur tepi sungai dangkal berbatu ke arah utara. Sumber air ini begitu dikeramatkan dan disakralkan oleh penduduk sekitar, serta digunakan sebagai ritual bagi orang yang berkepentingan. Cerita dari penduduk setempat, banyak orang dari luar Kecamatan Singosari dan luar Malang datang ke tempat ini untuk mandi berkenaan dengan keyakinan mereka.

Disebut Sumber Nagan oleh penduduk, karena sumber air itu dahulu memiliki pancuran berbentuk kepala ular naga, namun sudah lama hilang diambil orang. Adanya ragam hias kepala ular naga di suatu patirthan merupakan hal yang lazim pada masa Jawa Kuno. Hariani Santiko (2015) pernah membahas tentang ragam hias ular naga yang dihubungkan dengan tempat sakral, terutama di Jawa Timur. Ular itu sebagai lambang air, dipilihnya motif ular terkait dengan pentingnya air untuk kehidupan, terutama kehidupan keagamaan.

Beberapa penelitian berpendapat bahwa motif ular naga berhubungan dengan ritus/kultus kesuburan, tetapi juga terkait pula dengan upacara keagamaan yang dihubungkan dengan air yang dianggap suci (amerta). Dalam hal ini kita ingat akan mitologi Hindu tentang pencarian amerta dengan pengadukan lautan susu (Ksirârnawa), dewa ular Vasuki berperan penting dalam pencarian amerta sebagai tali pengikat Gunung Mandara.

Seberapa sakralkah air Sumber Nagan tersebut bagi masyarakat sekitar? Ternyata ketika ditelusuri dari cerita masyarakat Dusun Biru bahwa Sumber Nagan ini menurut kabaran cerita pernah digunakan sebagai sarana membuat keris oleh Mpu Gandring, bersama-sama dengan sumber ‘Boto Rubuh’. Kedua sumber air ini digunakan sebagai sarana untuk merendam besi hasil tempaan yang hendak dijadikan senjata keris. Cerita tersebut mirip dengan cerita rakyat terhadap keberadaan Candi Songgoriti, Mpu Supo selalu merendam tempaan besi yang hendak dibuat keris, sehingga air di Candi Songgoriti menjadi panas berbau besi. Demikianlah sebagaimana di tempat lainnya, cerita penduduk berkenaan dengan penyucian keris Mpu Gandring di Sumber Nagan itu merupakan usaha melegitimasi Sumber Nagan sebagai sumber air yang disakralkan.

Dalam Kidung Panji Margasmara pupuh VI 22.a disebutkan ketika berada di Taman Warapsari, Panji Margasmara menyuruh abdinya yang bernama Pangrupak untuk menemui Sodama, abdi Ken Candrasari. Sementara itu Panji Margasmara menuju ‘Ergangga’ atau ‘Airgangga’ bermaksud hendak mandi, diiring oleh abdi satunya yang bernama Pakararas. Apabila diterima bahwa Taman Warapsari itu sama dengan sumber ‘Boto Rubuh’ sekarang, kiranya ‘Ergangga’ itu tidak jauh dari sumber ‘Boto Rubuh’. Merujuk pada naskah-naskah Jawa Kuno, kata ‘Ergangga’ itu diartikan sebagai suatu sungai atau sumber air yang disucikan. Kita ingat akan Prasasti Tuk Mas dari Dusun Pandak Desa Lebak Kecamatan Grabag Magelang, yang menyebutkan adanya sumber air yang dianggap suci keluar dari sela-sela batu dan pasir, air yang jernih dan sejuk itu disebut-sebut keramat bagaikan Sungai Gangga.

Beranalogi pada prasasti Tuk Mas, ‘Ergangga’ dalam Kidung Panji Margasmara dapat dikatakan sebagai suatu sumber air yang keluar dari sela-sela batu bagaikan Gangga. Di bawah sumber ‘Boto Rubuh’ itu memang terdapat aliran sungai yang airnya mengalir kecil di sela batu-batu besar, dan di bagian utara sumber ‘Boto Rubuh’ itulah terdapat sumber air (Sumber Nagan) yang airnya keluar dari sela-sela tebing bebatuan dan mengalir melimpah ke sungai di dekatnya. Adakah kemungkinan bahwa ‘Ergangga’ ini adalah nama kuno dari Sumber Nagan, yang rupa-rupanya sejak zaman kuno sumber air ini sudah dianggap penting dan sakral pada masa itu.

Ada satu pendukung yang perlu untuk dipertimbangkan. Nama ‘Ergangga’ sudah dikenal dan muncul dalam prasasti Kubu-Kubu tahun 827 Śaka berkenaan dengan sima di Kubu-kubu. Perlu digarisbawahi bahwa sima di Kubu-kubu itu merupakan tanah hadiah untuk Rakryan Hujung dan Rakryan Majawuntan berupa tanah tegalan dengan saluran irigasinya. Lempeng IVa. 3 menyebut salah satu saksi dari desa tetangga waktu penetapan sima di Kubu-kubu adalah kepala keluarga (kulapati) dari ‘Ergangga’, di samping desa lain seperti Batwan dan Himad. Berdasar prasasti Gulunggulung tahun 851 Śaka, Desa Batwan dan Himad terindikasi berada di wilayah Rakryan Hujung, maka tentunya ‘Ergangga’ juga suatu desa yang berada di wilayah Hujung (Singosari). Jika demikian kemungkinan ‘Ergangga’ abad IX tersebut sama dengan Ergangga yang disebut dalam Kidung Panji Margasmara.

Penulis: Suwardono (Ahli Epigrafi dan Filologi Malang).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....