Ruwatan, Upaya RRI Malang Lestarikan Budaya
- 22 Jul 2024 07:44 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Malang terus berupaya berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan budaya nusantara melalui berbagai program dan kegiatan. Salah satunya lewat upacara ruwatan massal, sebuah tradisi Jawa yang bertujuan untuk membebaskan diri dari kesialan dan gangguan roh jahat.
Ruwatan, yang berarti "dilepaskan" atau "dibebaskan", merupakan upacara adat yang memiliki makna mendalam dalam budaya Jawa. Tahun ini, RRI Malang menggelar acara ruwatan dengan diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah, mulai dari kota-kota di Jawa Timur hingga luar pulau Jawa.
“Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh aspek perkembangan dan pembentukan karakter, serta garda terdepan dalam menjaga budaya nusantara,” kata Ketua Panitia Ruwatan 2024 RRI Malang, Diana Mading, Minggu (21/7/2024).
Menurut Diana, Ruwatan 2024 bukan hanya sebuah upacara, tetapi juga simbol komitmen dalam mewujudkan harapan tentang budaya dalam pembangunan karakter bangsa.
“Dengan terus melestarikan tradisi seperti ini, RRI menunjukkan perannya sebagai alat perjuangan bangsa yang tak hanya menyuarakan berita, tetapi juga menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya nusantara,” tuturnya.
Dalam acara tersebut, para peserta mengenakan kain putih yang melambangkan kesucian jiwa, menandai prosesi upacara ruwatan yang khidmat dan penuh makna. Tradisi ini telah berjalan selama lebih dari tujuh tahun dan menjadi momen penting bagi RRI Malang untuk selalu terdepan dalam menjaga adat istiadat, perilaku, dan sentra budaya di tengah masyarakat.
Salah satu wali peserta, Riska mengaku sangat mendukung pelestarian tradisi ini dan berharap agar anak-anaknya juga dapat mengenal dan mencintai budaya leluhur.
“Tradisi ruwatan diikuti oleh peserta yang memiliki anak tunggal, memiliki anak 3 yang tengah laki-laki, dan orang yang sakit juga boleh mengikuti ruwatan,” ujarnya.

Ada kriteria khusus ketika seseorang melakukan upacara ruwatan, yaitu anak yang dianggap telah dinaungi aura hitam (sukerta), seperti ontang anting (anak tunggal laki - laki atau perempuan), atau sendhang kapit pancuran (tiga orang anak yang berselang - seling) hingga orang yang dianggap bersalah (jalma aradan).
“Saya mendaftarkan anak saya di ruwatan ini, karena kebetulan anak saya anak tunggal”, kata Riska.
Puncak acara adalah pagelaran wayang kulit dengan lakon "Manikmoyo Jagad Gumilar" yang dibawakan oleh Ki Joko Setiono. Pertunjukan ini menggambarkan nilai-nilai luhur bangsa dan diakhiri dengan doa dari Ustadz Mochtar, memohon berkah dan keselamatan bagi seluruh peserta. (Fitra, Shela, Anisah/Mahasiswa PKL UIN Malang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....