FKP PVMBG Soroti Pemahaman Peta KRB Bromo Belum Merata

  • 06 Okt 2026 10:33 WIB
  •  Malang
RRI. CO. ID, Malang – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) terkait peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Bromo, Jawa Timur. Forum tersebut menjadi ruang untuk menghimpun masukan dari pemerintah, masyarakat, serta pemangku kepentingan terkait mitigasi bencana Gunung Bromo.
Penyelidik Bumi Ahli Utama PVMBG, Kristiyanto, mengatakan FKP digelar untuk mendapatkan masukan terhadap peta KRB Gunung Bromo yang telah dibuat sejak 2015.
“Tujuan dari FKP ini sebetulnya kami ingin mendengarkan masukan-masukan dari stakeholder, baik dari unsur pemerintahan, unsur masyarakat dan yang lain-lain,” ujar Kristiyanto, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, dari pelaksanaan FKP tersebut, Badan Geologi mendapatkan sejumlah masukan penting. Salah satunya berkaitan dengan belum meratanya pemahaman masyarakat mengenai peta kawasan rawan bencana.
“Dari hasil FKP ini kami mendapatkan banyak masukan. Terutama ternyata pemahaman masyarakat tentang peta kawasan rawan bencana juga belum merata,” katanya.
Meski demikian, Kristiyanto menyebut masyarakat di sekitar Gunung Bromo pada dasarnya telah memahami potensi ancaman erupsi dan selama ini hidup berdampingan dengan aktivitas gunung api tersebut.
Ia menambahkan, masyarakat juga mengusulkan agar Badan Geologi meningkatkan sosialisasi kepada para pelaku dan penggiat pariwisata di kawasan Bromo. Sosialisasi dinilai penting agar pengelola wisata memahami peta KRB sekaligus rekomendasi teknis yang dikeluarkan Badan Geologi.
“Bimbingan teknis kepada para stakeholder juga perlu dilakukan oleh Badan Geologi supaya mitigasi bencana Gunung Bromo ini lebih efektif dan kita bisa menekan korban jiwa maupun kerugian harta benda,” jelasnya.
Titik Evakuasi Perlu Dievaluasi
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam FKP adalah keberadaan titik kumpul atau lokasi evakuasi yang ternyata masih berada di kawasan yang masuk kategori rawan bencana.
Kristiyanto mengatakan kondisi tersebut akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan.
“Ternyata desanya itu juga masih menjadi desa yang kategori rawan bencana. Jadi ini akan menjadi masukan kami untuk segera kami lakukan diskusi lanjutan,” ujarnya.
Diskusi lanjutan tersebut rencananya melibatkan BPBD dan pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pembahasan akan diarahkan untuk menentukan lokasi evakuasi yang lebih ideal dan berada di luar kawasan rawan bencana.
“Kita akan melakukan ini nanti kira-kira di mana tempat yang ideal, di luar dari peta KRB terutama untuk tempat-tempat evakuasi,” kata Kristiyanto.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....