Puncak Kemarau 2026,BPBD Jatim Ingatkan Bahaya Bara Api
- 31 Agt 2026 16:45 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mengingatkan masyarakat tidak meninggalkan bara api saat melakukan aktivitas di luar ruangan. Bara yang tampak kecil dapat tertiup angin dan memicu kebakaran baru di tengah kondisi vegetasi yang kering pada puncak musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, mewanti-wanti masyarakat yang membakar sampah, membersihkan lahan pertanian, maupun membuat api unggun harus memastikan api benar-benar padam setelah aktivitas selesai.
“Dapat kami minta himbauan kepada teman-teman bahwa saat ini adalah puncak musim kemarau. Apabila kita melakukan kegiatan di luar ruangan seperti membakar api untuk membuang sampah, tolong dipastikan api tersebut diawasi dengan benar,” tutur Gatot, Senin (31/8/2026).
Kondisi angin kencang dan rumput atau ilalang yang mengering membuat api dapat dengan cepat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Bahkan, kebakaran di kawasan pegunungan dapat berkembang dengan cepat ketika bara api terbawa angin dan jatuh pada vegetasi kering.
“Karena setitik bara yang tertiup angin ini akan jatuh ke tempat yang mungkin tempat tersebut perumputan kering, ini menjadi bahan baku baru untuk munculnya asap,” katanya.
Gatot mencontohkan kondisi di kawasan Bromo, ketika bara api yang terbawa angin dapat menjadi sumber munculnya titik api baru. Situasi tersebut semakin sulit dikendalikan ketika angin bertiup kencang.
Selain faktor manusia, kondisi medan juga menjadi tantangan besar dalam penanganan karhutla di wilayah pegunungan. Sejumlah lokasi kebakaran berada di kawasan terjal, curam dan jauh dari akses petugas.
Karena itu, BPBD Jatim melakukan penanganan melalui kolaborasi lintas instansi, termasuk BPBD kabupaten/kota, pemadam kebakaran, TNI-Polri, pengelola kawasan hutan, masyarakat, hingga dukungan pemadaman udara.
Gatot menegaskan pencegahan menjadi langkah penting karena pemadaman di kawasan sulit dijangkau membutuhkan sumber daya dan risiko yang lebih besar.
“Pastikan juga apabila kebutuhan tersebut sudah selesai, baik membakar sampah atau waktu tunggu tersebut sudah selesai, pastikan juga api tersebut dipadamkan dengan sempurna,” tegasnya.
Saat ini perhatian diberikan terhadap sejumlah kawasan yang dinilai rawan karhutla, di antaranya Gunung Arjuno dan Gunung Semeru. Kondisi Semeru menjadi perhatian setelah kebakaran di Blok Ranu Kembang yang dekat dengan jalur pendakian pada 26 Agustus 2026 yang kemudian menyebabkan penutupan total jalur pendakian.
BPBD Jatim mengajak masyarakat menjadikan pencegahan sebagai tanggung jawab bersama. Tidak meninggalkan api tanpa pengawasan dan memastikan seluruh bara benar-benar padam menjadi langkah sederhana yang dapat mencegah kebakaran meluas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....