Distribusi Bantuan Gempa NTT Terkendala Pengungsian Mandiri

  • 19 Agt 2026 15:06 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi tantangan distribusi bantuan. Salah satu kendalanya adalah pola pengungsian masyarakat yang lebih banyak dilakukan secara mandiri dan tersebar di berbagai titik.

Hal tersebut disampaikan mahasiswa asal NTT yang berada di Kota Malang, Yano dan Shinky Oby. Keduanya menjelaskan bahwa kondisi geografis Flores membuat masyarakat di sejumlah wilayah tidak terkonsentrasi dalam satu lokasi pengungsian.

Di Nagekeo, masyarakat lebih banyak memilih bertahan di sekitar rumah masing-masing. Selain mempertimbangkan keamanan rumah, warga juga masih harus menjaga ternak dan berbagai usaha yang mereka miliki.

“Kalau di Kabupaten kami rata-rata mungkin di Flores itu kan ada delapan kabupaten. Kondisinya tidak seperti di Jawa yang kotanya mungkin penduduknya padat, dekat-dekat per desa. Jadi ngungsinya lebih banyak mandiri,” kata Yano, , Rabu (19/8/2026).

Akibatnya, bantuan yang akan disalurkan harus menjangkau banyak titik. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah maupun relawan karena jumlah lokasi yang harus didatangi cukup banyak.

Situasi serupa terjadi di Manggarai Timur. Sejumlah keluarga memilih membangun tenda bersama. Dua hingga tiga kepala keluarga dapat menempati satu tenda untuk sementara waktu.

“Di Manggarai Timur sendiri kita masih mengandalkan tetangga. Biasanya dua kepala keluarga akan membangun satu tenda pribadi atau tiga kepala keluarga membangun satu tenda,” ujar Shinky.

Selain persoalan banyaknya titik pengungsian, akses komunikasi juga menjadi kendala. Beberapa wilayah di bagian dalam belum memiliki akses internet dan listrik yang memadai sehingga informasi mengenai kondisi masyarakat belum seluruhnya dapat diterima dengan cepat.

Kondisi geografis juga menjadi tantangan tersendiri bagi Nagekeo. Kabupaten tersebut berada di bagian tengah Pulau Flores sehingga akses bantuan dari wilayah lain banyak bergantung pada jalur darat.

Menurut Yano, keberadaan posko utama di Labuan Bajo dan Maumere membuat distribusi bantuan menuju Nagekeo membutuhkan waktu dan koordinasi lebih lanjut.

“Kalau Kabupaten Nagekeo itu posisinya secara geografis di tengah-tengah Pulau Flores. Jadi yang bisa akses hanya lewat jalur darat. Jadi itu yang agak keterbatasan,” jelas Yano.

Karena itu, mahasiswa berharap keberadaan posko dan titik distribusi bantuan dapat diperbanyak di wilayah yang terdampak. Dengan lokasi bantuan yang lebih dekat dengan masyarakat, proses pendataan maupun penyaluran kebutuhan dasar diharapkan menjadi lebih efektif.

Kebutuhan masyarakat saat ini cukup beragam. Selimut, terpal dan tenda darurat menjadi kebutuhan utama karena banyak warga masih belum berani kembali ke rumah.

Selain itu, masyarakat membutuhkan makanan, air bersih, pakaian hangat dan obat-obatan. Kondisi cuaca yang dingin juga membuat kebutuhan masker serta obat untuk keluhan flu dan batuk menjadi perhatian.

Kebutuhan untuk perempuan dan anak juga tidak kalah penting. Bantuan berupa kebutuhan higienitas perempuan serta popok atau diapers untuk anak-anak turut dibutuhkan di lokasi pengungsian.

Mahasiswa asal NTT di Malang berharap masyarakat yang ingin memberikan bantuan dapat menyesuaikan donasi dengan kebutuhan tersebut. Bantuan juga diharapkan diberikan secara terkoordinasi agar dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....