PKKMB tanpa Perpeloncoan, Maba UB Dibekali Adaptasi Hadapi Era Digital
- 07 Agt 2026 19:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) menegaskan pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 tidak diwarnai praktik perpeloncoan. Orientasi mahasiswa baru diarahkan untuk membangun sikap saling menghormati, integritas, kapasitas, serta kemampuan beradaptasi dengan tantangan di era digital.
Nilai kemanusiaan dan sikap saling menghormati menjadi salah satu landasan dalam pelaksanaan PKKMB. Sekitar 800 panitia mahasiswa juga telah diberikan pemahaman mengenai nilai tersebut. Hal ini disampaikan Direktur Direktorat Kemahasiswaan Universitas Brawijaya Dr. Sujarwo dalam program Halo RRI, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menjawab harapan pendengar terhadap PKKMB UB jangan ada praktik perploncoan, Sujarwo menegaskan orientasi mahasiswa baru tidak lagi ditempatkan sebagai ruang untuk melakukan tindakan yang merendahkan atau mempermalukan peserta.
“Sehingga perpeloncoan itu enggak ada. Tangan kami terbuka untuk menerima adik-adik,” tegas Sujarwo.
Menurutnya, tantangan mahasiswa saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar proses adaptasi terhadap lingkungan kampus. Perkembangan kecerdasan buatan (AI), media sosial, serta perubahan teknologi menuntut mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan.
Karena itu, kegiatan pengenalan mahasiswa baru diarahkan untuk membantu mahasiswa memahami lingkungan akademik sekaligus membangun kemampuan menghadapi persoalan yang akan mereka temui selama menjalani pendidikan tinggi.
“Sudah levelnya bukan gojlok-gojlok, levelnya adalah bagaimana caranya handling kompleksitas problem yang sekarang ini ada, dengan AI, media sosial dan lain sebagainya,” jelasnya.
Sujarwo mengatakan, pendekatan tersebut juga dikomunikasikan dengan fakultas melalui jajaran pimpinan dan pengelola kemahasiswaan. Universitas mendorong agar nilai yang dibangun pada tingkat universitas tetap menjadi rujukan ketika kegiatan berlanjut di fakultas dan departemen.
Ia menilai praktik perpeloncoan tidak relevan dengan tujuan pendidikan tinggi karena berpotensi mengabaikan penghormatan terhadap individu. Sebaliknya, mahasiswa baru perlu diarahkan untuk membangun kemampuan berkolaborasi, beradaptasi, dan memahami tantangan masa depan.
“Value yang kita kembangkan tentu saling menghormati, saling bekerja sama untuk bisa mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan kampus,” ujarnya.
Selain menekan praktik fisik yang tidak diperlukan, UB juga menerapkan pendekatan yang lebih digital dalam pelaksanaan PKKMB 2026. Penugasan fisik bagi mahasiswa baru diminimalkan. Atribut yang digunakan juga dibatasi pada kebutuhan tertentu, seperti pita sebagai penanda kondisi khusus serta name tag untuk menunjukkan identitas dan klaster mahasiswa.
“Mahasiswa baru juga diarahkan membawa perlengkapan pribadi yang diperlukan, seperti air minum dan perlengkapan ibadah. Selebihnya, aktivitas dan penugasan PKKMB lebih banyak memanfaatkan sistem digital,” imbuh Sujarwo.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya UB membangun lingkungan kampus yang lebih modern dan ramah mahasiswa. Dalam pelaksanaannya, aspek keselamatan juga menjadi perhatian, termasuk dalam berbagai penampilan kreativitas mahasiswa pada pembukaan PKKMB.
Sujarwo menjelaskan, mahasiswa tetap diberikan ruang untuk menampilkan kreativitas, seperti tarian Nusantara dan atraksi tertentu. Namun, setiap kegiatan harus melalui koordinasi dengan unsur keselamatan dan protokol kampus. Atraksi yang dinilai berbahaya dapat dibatalkan.
Rangkaian PKKMB tingkat universitas berlangsung 10-12 Agustus 2026, sedangkan kegiatan tingkat fakultas dilaksanakan 13-15 Agustus 2026. Sekitar 17.335 mahasiswa baru diperkirakan mengikuti rangkaian penerimaan mahasiswa baru Universitas Brawijaya tahun ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....