Kemarau 2026, BPBD Kabupaten Malang Siaga Karhutla dan Krisis Air Bersih

  • 29 Jul 2026 16:53 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memastikan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 tidak hanya difokuskan pada penanganan krisis air bersih, tetapi juga mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai meningkat di sejumlah kawasan rawan.

BPBD telah menyiapkan personel, armada tangki air, hingga ratusan tandon sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kekeringan kritis maupun kebakaran lahan.

"Kalau surat permohonan masuk hari ini, hari ini juga kami lakukan asesmen. Kalau hasilnya menunjukkan kekeringan kritis, malam ini bantuan air bersih sudah bisa kami kirim karena seluruh sarana dan personel sudah siap," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, dalam program Halo RRI, Rabu, 29 Juli 2026.

Ia menjelaskan, suatu wilayah dinyatakan mengalami kekeringan kritis apabila masyarakat dalam satu kawasan sudah tidak memiliki akses air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dalam radius sekitar tiga kilometer.

Setelah status tersebut ditetapkan melalui asesmen cepat, BPBD akan menentukan titik distribusi air bersama pemerintah desa serta memasang tandon sesuai kebutuhan warga.

Selain krisis air bersih, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi saat musim kemarau.

Purwoto menyebut pihaknya telah memetakan titik-titik rawan karhutla dan berkoordinasi dengan Perhutani, relawan, pemerintah desa, serta kecamatan yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD telah menempatkan tiga tandon air di kawasan lereng Arjuno, tepatnya di Bodokasur, atas permintaan Perhutani.

"Tandon sudah kami isi air sehingga ketika muncul api kecil, petugas tidak perlu lagi mengambil air dari jauh. Penanganan awal bisa langsung dilakukan di lokasi," katanya.

Purwoto juga mengajak masyarakat berperan aktif mencegah bencana dengan menghemat penggunaan air bersih serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran di kawasan hutan.

"Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara efektif dan efisien. Bagi yang beraktivitas di kawasan hutan, jangan membuang puntung rokok atau melakukan pembakaran yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....