Tembakau Paiton Terkena Penyakit Ker ker

  • 28 Jul 2026 21:04 WIB
  •  Malang

RRI. CO. ID, Probolinggo – Petani tembakau di Desa Tamansari, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo mulai menerapkan pengendalian ramah lingkungan untuk mengatasi serangan penyakit ker-ker akibat virus dan penyakit layu yang disebabkan jamur. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan Pupuk Organik Cair (POC), Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta pestisida nabati.

Langkah tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Desa Tamansari, Kelompok Tani Sumber Jaya, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kraksaan, serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.

Sebagai tindak lanjut, puluhan petani mengikuti pelatihan dan praktik pembuatan POC, PGPR, serta pestisida nabati di Balai Desa Tamansari, Senin (27/7/2026). Para peserta membawa bahan dan peralatan sendiri agar mampu memproduksi ketiga bahan tersebut secara mandiri untuk diterapkan di lahan masing-masing.

Petugas POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya, Ika Ratmawati, menjelaskan POC berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanaman, sedangkan PGPR berperan sebagai biostimulan, biofertilizer, sekaligus bioprotektan yang mampu memperkuat pertumbuhan tanaman.

"Sementara pestisida nabati dimanfaatkan untuk menekan populasi kutu kebul yang menjadi vektor penyebaran virus penyebab penyakit ker-ker pada tanaman tembakau," ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Menurut Ika, kombinasi ketiga bahan tersebut mampu meningkatkan kesehatan tanaman, memperbaiki kondisi tanah, sekaligus mengurangi serangan hama dan penyakit, terutama pada lahan dengan tingkat keasaman yang cukup tinggi.

Koordinator BPP Kecamatan Kraksaan, Abd Rasyid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan respons cepat terhadap munculnya serangan penyakit pada tanaman tembakau di Desa Tamansari.

"Ini merupakan bagian dari gerak cepat BPP Kraksaan bersama kelompok tani dan Pemerintah Desa Tamansari agar petani mampu membuat sendiri POC, PGPR, dan pestisida nabati sebagai solusi menghadapi serangan penyakit di lapangan," katanya.

Ia berharap kemampuan tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga ketergantungan petani terhadap bahan kimia sintetis semakin berkurang, sementara produktivitas tembakau tetap terjaga.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Tamansari, Ali Usman, mengingatkan pentingnya penggunaan bibit sehat yang berasal dari sumber terpercaya. Menurutnya, bibit yang tidak jelas asal-usulnya berpotensi membawa virus penyebab penyakit ker-ker.

"Kalau menggunakan benih sendiri harus melalui perlakuan sesuai standar agar menghasilkan bibit unggul, berasal dari daerah yang bebas virus serta menghindari penyebaran kutu kebul sebagai vektor pembawa virus," jelasnya.

Melalui sinergi antara petani, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan tenaga teknis BBPPTP Surabaya, diharapkan serangan penyakit ker-ker dan layu pada tanaman tembakau dapat ditekan. Selain menjaga produktivitas, penerapan POC, PGPR, dan pestisida nabati juga diharapkan mendorong budidaya tembakau yang lebih ramah lingkungan di Kabupaten Probolinggo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....