Pemkot Malang Didorong Bangun Percontohan TPS Berbasis Pengolahan Sampah
- 27 Jul 2026 09:30 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pengelolaan sampah di Kota Malang dinilai perlu beralih dari sistem pembuangan menuju sistem pengolahan. Akademisi Universitas Brawijaya, Prof. Mohammad Bisri mendorong Pemerintah Kota Malang membangun satu lokasi percontohan Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPS) sebagai model pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya itu menilai konsep Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang selama ini hanya berfungsi sebagai lokasi transit sampah sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, TPS seharusnya bertransformasi menjadi tempat pengolahan sehingga volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.
"Kalau namanya sudah menjadi tempat pengolahan, berarti prinsip pengelolaannya juga harus berubah. Di TPS harus ada organisasi yang jelas, ada manajer, pegawai, dan sistem kerja yang mengelola sampah, bukan sekadar menampung," kata Prof. Bisri, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, setiap TPS perlu dilengkapi sistem manajemen profesional yang menangani pemilahan, pencacahan, hingga pengolahan sampah. Residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan dapat dimusnahkan menggunakan teknologi pembakaran beremisi rendah sehingga hanya menyisakan sebagian kecil sampah untuk dibawa ke TPA.
“Target jangka panjang adalah mengurangi sampah yang masuk ke TPA hingga di bawah 20 persen, bahkan mendekati nol persen,” ujarnya.
Prof. Bisri menilai konsep tersebut juga lebih efisien dari sisi anggaran. Biaya operasional armada pengangkut sampah dapat dialihkan untuk membangun fasilitas pengolahan sekaligus membiayai tenaga kerja yang mengelola TPS.
Selain itu, ia mengusulkan pemanfaatan sistem digital dalam operasional TPS, mulai dari penimbangan hingga pencatatan pengelolaan sampah. Sistem tersebut dinilai mampu meningkatkan transparansi sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
"Warga di sekitar TPS bisa diberdayakan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang profesional. Ini sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja," tuturnya.
Namun demikian, Prof. Bisri menekankan bahwa perubahan sistem harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah. Selanjutnya, pengelolaan di tingkat TPS perlu didukung pemerintah kelurahan agar terbentuk sistem yang terintegrasi.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menerapkan konsep tersebut secara menyeluruh. Menurutnya, langkah awal yang lebih realistis adalah membangun satu lokasi percontohan yang nantinya dapat dievaluasi sebelum diperluas ke wilayah lain.
"Saya menyarankan Dinas Lingkungan Hidup membuat satu role model terlebih dahulu, misalnya di TPS Buring. Pilih lokasi yang lahannya memadai, bangun sistem pengolahan yang lengkap, lalu evaluasi hasilnya sebelum direplikasi," ujarnya.
Di sisi lain, Prof. Bisri mengingatkan pentingnya pengelolaan air lindi di TPA. Ia menegaskan limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dialirkan ke sumur injeksi agar tidak mencemari air tanah.
"Kalau tidak diolah di IPAL terlebih dahulu, air lindi berpotensi mencemari air tanah. Karena itu, beban TPA harus dikurangi sejak dari TPS melalui sistem pengolahan yang baik," pungkasnya.
Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya itu menilai konsep Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang selama ini hanya berfungsi sebagai lokasi transit sampah sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, TPS seharusnya bertransformasi menjadi tempat pengolahan sehingga volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.
"Kalau namanya sudah menjadi tempat pengolahan, berarti prinsip pengelolaannya juga harus berubah. Di TPS harus ada organisasi yang jelas, ada manajer, pegawai, dan sistem kerja yang mengelola sampah, bukan sekadar menampung," kata Prof. Bisri, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, setiap TPS perlu dilengkapi sistem manajemen profesional yang menangani pemilahan, pencacahan, hingga pengolahan sampah. Residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan dapat dimusnahkan menggunakan teknologi pembakaran beremisi rendah sehingga hanya menyisakan sebagian kecil sampah untuk dibawa ke TPA.
“Target jangka panjang adalah mengurangi sampah yang masuk ke TPA hingga di bawah 20 persen, bahkan mendekati nol persen,” ujarnya.
Prof. Bisri menilai konsep tersebut juga lebih efisien dari sisi anggaran. Biaya operasional armada pengangkut sampah dapat dialihkan untuk membangun fasilitas pengolahan sekaligus membiayai tenaga kerja yang mengelola TPS.
Selain itu, ia mengusulkan pemanfaatan sistem digital dalam operasional TPS, mulai dari penimbangan hingga pencatatan pengelolaan sampah. Sistem tersebut dinilai mampu meningkatkan transparansi sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
"Warga di sekitar TPS bisa diberdayakan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang profesional. Ini sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja," tuturnya.
Namun demikian, Prof. Bisri menekankan bahwa perubahan sistem harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah. Selanjutnya, pengelolaan di tingkat TPS perlu didukung pemerintah kelurahan agar terbentuk sistem yang terintegrasi.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menerapkan konsep tersebut secara menyeluruh. Menurutnya, langkah awal yang lebih realistis adalah membangun satu lokasi percontohan yang nantinya dapat dievaluasi sebelum diperluas ke wilayah lain.
"Saya menyarankan Dinas Lingkungan Hidup membuat satu role model terlebih dahulu, misalnya di TPS Buring. Pilih lokasi yang lahannya memadai, bangun sistem pengolahan yang lengkap, lalu evaluasi hasilnya sebelum direplikasi," ujarnya.
Di sisi lain, Prof. Bisri mengingatkan pentingnya pengelolaan air lindi di TPA. Ia menegaskan limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dialirkan ke sumur injeksi agar tidak mencemari air tanah.
"Kalau tidak diolah di IPAL terlebih dahulu, air lindi berpotensi mencemari air tanah. Karena itu, beban TPA harus dikurangi sejak dari TPS melalui sistem pengolahan yang baik," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....