Pakar: Indonesia Sulit Alami Heat Dome meski Eropa Dilanda Suhu Ekstrem
- 08 Jul 2026 10:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena heat dome yang memicu suhu udara ekstrem hingga di atas 40 derajat Celsius di sejumlah negara Eropa tidak serta-merta akan terjadi di Indonesia. Karakteristik wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan membuat panas lebih mudah dilepaskan ke atmosfer sehingga kecil kemungkinan terjadi akumulasi panas seperti yang terjadi di Eropa.
Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Adi Susilo menjelaskan heat dome merupakan fenomena ketika udara panas terperangkap di suatu wilayah akibat adanya sistem tekanan udara tinggi yang menghambat sirkulasi atmosfer.
"Heat dome dapat diibaratkan seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir menyerupai efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu," jelasnya, Rabu (8/7/2026).
Menurut Prof. Adi, fenomena tersebut lebih sering terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara yang memiliki hamparan daratan luas. Kondisi tersebut membuat panas lebih mudah terakumulasi dan bertahan dalam waktu lama.
"Di Eropa daratannya sangat luas sehingga panas sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan seperti Indonesia," ujarnya.
Ia menegaskan peluang terjadinya heat dome di Indonesia relatif kecil karena wilayah Nusantara didominasi lautan. Proses penguapan dari permukaan laut dan sirkulasi udara tropis membantu mengurangi penumpukan panas di atmosfer.
"Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas," katanya.
Prof. Adi juga menjelaskan bahwa heat dome berbeda dengan heat wave atau gelombang panas. Heat wave merupakan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome terjadi karena adanya lapisan tekanan tinggi yang memerangkap udara panas sehingga suhu meningkat lebih ekstrem.
"Pada heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa," ungkapnya.
Meski peluang terjadinya heat dome di Indonesia kecil, masyarakat tetap diminta mewaspadai paparan panas matahari, terutama saat musim kemarau ketika intensitas radiasi matahari meningkat.
Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Adi Susilo menjelaskan heat dome merupakan fenomena ketika udara panas terperangkap di suatu wilayah akibat adanya sistem tekanan udara tinggi yang menghambat sirkulasi atmosfer.
"Heat dome dapat diibaratkan seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir menyerupai efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu," jelasnya, Rabu (8/7/2026).
Menurut Prof. Adi, fenomena tersebut lebih sering terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara yang memiliki hamparan daratan luas. Kondisi tersebut membuat panas lebih mudah terakumulasi dan bertahan dalam waktu lama.
"Di Eropa daratannya sangat luas sehingga panas sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan seperti Indonesia," ujarnya.
Ia menegaskan peluang terjadinya heat dome di Indonesia relatif kecil karena wilayah Nusantara didominasi lautan. Proses penguapan dari permukaan laut dan sirkulasi udara tropis membantu mengurangi penumpukan panas di atmosfer.
"Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas," katanya.
Prof. Adi juga menjelaskan bahwa heat dome berbeda dengan heat wave atau gelombang panas. Heat wave merupakan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, sedangkan heat dome terjadi karena adanya lapisan tekanan tinggi yang memerangkap udara panas sehingga suhu meningkat lebih ekstrem.
"Pada heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa," ungkapnya.
Meski peluang terjadinya heat dome di Indonesia kecil, masyarakat tetap diminta mewaspadai paparan panas matahari, terutama saat musim kemarau ketika intensitas radiasi matahari meningkat.
“Risiko yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah paparan sinar ultraviolet yang dapat berdampak pada kesehatan jika beraktivitas terlalu lama di luar ruangan,” kata dia.
Ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di bawah terik matahari, menggunakan pelindung seperti topi, pakaian lengan panjang, dan tabir surya untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Selain itu, Prof. Adi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi mengenai cuaca ekstrem yang beredar di media sosial tanpa verifikasi. Menurutnya, informasi terkait kondisi cuaca sebaiknya merujuk pada sumber resmi, seperti BMKG.
"Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan," pungkasnya.
Ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di bawah terik matahari, menggunakan pelindung seperti topi, pakaian lengan panjang, dan tabir surya untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Selain itu, Prof. Adi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi mengenai cuaca ekstrem yang beredar di media sosial tanpa verifikasi. Menurutnya, informasi terkait kondisi cuaca sebaiknya merujuk pada sumber resmi, seperti BMKG.
"Masyarakat perlu bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya karena justru dapat menimbulkan kepanikan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....