Fatherless Ancam Anak, Ayah Tak Cukup Hanya Menjadi Pencari Nafkah
- 05 Jul 2026 09:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang : Fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Malang. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga absennya kedekatan emosional dan peran pengasuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang, Dian Sonyalia Caturrina, menjelaskan bahwa istilah fatherless sering disalahartikan sebagai kondisi anak yang tidak memiliki ayah. Padahal, banyak anak yang tinggal bersama ayahnya namun tetap mengalami fatherless karena kurang mendapatkan perhatian, komunikasi, hingga pendampingan dalam proses tumbuh kembang.
"Fatherless bukan hanya ketidakhadiran secara fisik, tetapi juga ketidakhadiran secara emosional, komunikasi, interaksi harian, dan tanggung jawab dalam pengasuhan." Katanya, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, dampak kondisi tersebut cukup besar terhadap perkembangan anak. Anak yang mengalami fatherless memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan akademik, lemahnya pengendalian emosi saat remaja, kehilangan figur teladan, hingga kesulitan membangun karakter ketika dewasa.
Selain itu, anak juga berpotensi kehilangan contoh mengenai bagaimana menjadi seorang ayah maupun kepala keluarga yang baik.
"Figur ayah merupakan regulator emosi sekaligus teladan karakter bagi anak." Ujarnya.
Untuk menekan angka tersebut, Pemerintah Kota Malang terus memperkuat berbagai program pembinaan keluarga dan remaja.
Melalui Dinas Sosial P3AP2KB, berbagai program seperti Sekolah Siaga Kependudukan, Forum GenRe, konselor sebaya, hingga Pusat Informasi dan Konseling Remaja terus dikembangkan. Program-program tersebut difokuskan untuk mencegah tiga persoalan utama remaja, yakni seks pranikah, penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif, serta pernikahan usia anak.
Menurut Dian Sonyalia Caturrina, seluruh upaya tersebut bermuara pada penguatan fungsi keluarga. Ia menilai keterlibatan kedua orang tua, terutama ayah, menjadi fondasi utama dalam membangun karakter generasi emas Indonesia menuju 2045.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi keluarga yang tidak memiliki figur ayah tetap dapat memberikan pendampingan optimal. Peran tersebut dapat digantikan oleh kakek, paman, kakak laki-laki, maupun ibu yang menjalankan peran ganda sebagai orang tua. Bahkan, bagi ayah yang bekerja di luar kota, komunikasi melalui video call maupun pesan penyemangat tetap dapat menjadi bentuk kehadiran emosional bagi anak.
"Kesibukan pekerjaan tidak boleh menjadi alasan hilangnya kehadiran ayah dalam memori tumbuh kembang anak." ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....