Pendampingan Penyintas Tak Cukup Konseling, Pemberdayaan Ekonomi Jadi Jalan
- 05 Jul 2026 09:37 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang : Pendampingan terhadap penyintas kekerasan seksual maupun kekerasan dalam rumah tangga dinilai tidak cukup hanya melalui konseling atau bantuan hukum. Korban juga membutuhkan pemberdayaan agar mampu bangkit, mandiri, dan kembali percaya terhadap dirinya sendiri.
Founder Gedong Ijen Education Creative Center Dewi Utari mengatakan banyak penyintas memilih bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan karena bergantung secara ekonomi kepada pelaku. Menurutnya, kondisi tersebut banyak terjadi, bahkan pada keluarga dari kalangan ekonomi menengah hingga atas.
"Banyak korban sebenarnya ingin keluar dari situasi itu, tetapi bingung harus hidup dari mana, memikirkan anak, nama baik keluarga, hingga tekanan sosial. Itu yang membuat mereka bertahan bertahun-tahun," ungkapnya, Jumat (3/7/2026).
Dewi mengaku selama mendampingi korban, ia menemukan banyak penyintas mengalami trauma berkepanjangan, namun tidak berani menceritakan pengalaman mereka kepada siapa pun. Karena itu, pihaknya memilih pendekatan pemberdayaan dibandingkan terus-menerus membahas trauma yang dialami korban.
Melalui pelatihan keterampilan, ruang berkarya, hingga pendampingan komunitas, penyintas didorong menemukan kembali potensi yang dimiliki.
"Kami ingin mereka sadar bahwa mereka masih punya nilai, masih bisa berkarya, masih bisa mandiri," katanya.
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan menggelar program pendampingan khusus bagi penyintas kekerasan seksual dengan menghadirkan ruang aman untuk berbagi cerita sekaligus membangun kembali kepercayaan diri.
Akademisi Zenita Kurnia Putri menjelaskan bahwa korban kekerasan umumnya mengalami trauma mendalam yang tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga kesehatan fisik. Korban yang tidak memperoleh pendampingan sering kali memilih memendam pengalaman buruknya hingga berpotensi mengalami depresi bahkan muncul keinginan mengakhiri hidup. Karena itu, keluarga menjadi pihak pertama yang harus mampu mengenali perubahan perilaku korban.
"Kalau anak atau anggota keluarga tiba-tiba menjadi pendiam, menarik diri, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis, keluarga harus lebih peka dan hadir sebagai tempat yang aman," ujarnya.
Selain pendampingan terhadap korban, kedua narasumber juga menilai pencegahan harus dimulai dari rumah melalui pola asuh yang sehat. Orang tua diminta membangun komunikasi terbuka dengan anak, menghindari kata-kata yang merendahkan, memberikan afirmasi positif setiap hari, serta menjadikan rumah sebagai tempat yang aman untuk bercerita.
"Keluarga yang hangat akan membentuk anak yang percaya diri sehingga tidak mudah menjadi korban maupun pelaku bullying," ujar Zenita.
Keduanya berharap semakin banyak komunitas dan lembaga yang terlibat dalam pendampingan penyintas sehingga korban tidak lagi merasa sendirian dan memiliki kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....