Archive Zine Rupa Rasa Dokumentasikan Energi Kreatif Malang
- 26 Jun 2026 09:26 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang: Rupa Rasa Artelier meluncurkan Archive Zine Release bertajuk “From Gathering to Movement: How Culture, Hospitality, Art, and Music Can Grow Together” di Sektor.316, Malang, sebagai upaya mendokumentasikan perjalanan sekaligus merawat memori kolektif yang lahir dari pertemuan berbagai pelaku kreatif lintas disiplin.
Kegiatan yang dikemas dalam format talkshow reflektif tersebut menghadirkan sejumlah penggagas dan pelaku kreatif, di antaranya Founder Rupa Rasa Artelier I Made Bagus, Chef dan F&B Consultant Roemah Kantja Mario Septian, Dewi Arum Nawang Wungudari dari Kelas Bertumbuh, serta Kevin Euaggelion dari Akar Padi Collective.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber membahas bagaimana Rupa Rasa berkembang dari sebuah ruang eksplorasi hospitality menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan seni, musik, kriya, pertunjukan, dan berbagai praktik kreatif lainnya.
I Made Bagus menjelaskan bahwa Rupa Rasa awalnya dibangun sebagai ruang bagi bartender dan mixologist dari Jawa dan Bali untuk mengeksplorasi kekayaan bahan pangan lokal melalui racikan minuman yang memiliki cerita dan identitas daerah.
“Awalnya Rupa Rasa adalah ruang untuk bartender dan mixologist mengeksplorasi bagaimana bahan lokal bisa memiliki cerita baru melalui minuman. Namun kemudian kami melihat bahwa setiap karya membawa narasi yang sama, yaitu tentang tempat, manusia, dan proses kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan Rupa Rasa berlangsung secara organik melalui pertemuan berbagai artisan dan pelaku kreatif yang datang dari latar belakang berbeda.
Hal senada disampaikan Mario Septian yang menilai kekuatan utama Rupa Rasa terletak pada kemampuannya menciptakan ruang kolaborasi yang setara. Ia menyebut hospitality tidak hanya menjadi bentuk pelayanan atau produk, melainkan medium untuk mempertemukan manusia melalui berbagai ekspresi kreatif.
“Minuman, makanan, musik, dan seni rupa menjadi bahasa yang sama untuk berkomunikasi. Semua hadir membawa karya dan berbagi cerita tanpa melihat hierarki,” kata Mario.
Sementara itu, Dewi Arum Nawang Wungudari melihat Rupa Rasa sebagai contoh bagaimana kreativitas dapat membangun ekosistem budaya yang inklusif dan terbuka. Menurutnya, keberagaman peserta dan pengisi acara menunjukkan bahwa ruang budaya dapat menjadi titik temu berbagai generasi dan komunitas.
“Yang penting bukan hanya siapa yang tampil, tetapi bagaimana semua orang merasa memiliki ruang untuk hadir,” ujarnya.
Salah satu fokus utama acara adalah peluncuran Archive Zine, publikasi yang berfungsi sebagai dokumentasi sekaligus arsip perjalanan Rupa Rasa. Kevin Euaggelion dari Akar Padi Collective menilai zine memiliki peran penting dalam menjaga memori kolektif yang tercipta selama festival berlangsung.
“Festival sering kali selesai ketika acara berakhir. Padahal yang tertinggal adalah hubungan, cerita, dan pengalaman yang terbentuk di dalamnya. Zine menjadi cara untuk menyimpan bukan hanya apa yang terlihat, tetapi juga rasa dan makna dari sebuah pertemuan,” ungkap Kevin.
Melalui kolaborasi berbagai komunitas dan ruang kreatif yang tergabung dalam Sektor.316 Connection, seperti Bruno Augusto dan Roemah Kantja, serta dukungan Akar Padi Collective, Rupa Rasa diharapkan dapat berkembang menjadi agenda budaya tahunan di Kota Malang.
Lebih dari sekadar festival, Rupa Rasa dinilai menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat tumbuh dari inisiatif komunitas, kolaborasi lintas bidang, dan semangat menciptakan ruang bersama. Dari sebuah pertemuan kecil, lahir kemungkinan terbentuknya gerakan budaya yang terus berkembang dan meninggalkan jejak bagi ekosistem kreatif Kota Malang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....