Dinilai Matikan Feeder, Jarak Halte Trans Jatim Dikritik
- 25 Jun 2026 16:21 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kehadiran Bus Trans Jatim di Kota Malang dinilai belum mampu berintegrasi dengan baik bersama angkutan kota (angkot) lokal. Alih-alih menjadi angkutan pengumpan (feeder), posisi angkot justru terpinggirkan akibat jarak antarhalte bus yang dibangun terlalu dekat di jalur-jalur gemuk.
Kritik teknis ini disampaikan oleh para pengurus jalur angkot di Kota Malang. Mereka menilai penempatan halte BRT yang terlalu rapat membuat fungsi transit angkot hilang, karena penumpang bisa langsung mengakses bus tanpa perlu berpindah moda.
Ketua Jalur AG, Sony Junaedi menjelaskan bahwa secara teori angkot bisa menjadi konektor masyarakat menuju bus. Namun, realitas di lapangan menunjukkan halte Trans Jatim justru dibangun berdekatan langsung di area yang menjadi sumber penumpang angkot.
"Kalau haltenya itu tidak terlalu dekat, kami sudah jadi feeder sebenarnya, Mas. Kan kami bisa menghubungkan. Jadi kalau haltenya berdekatan, ya malah Trans Jatim itu yang menguasai, bukan kita yang operasi," kata Sony, Kamis 25 Juni 2026.
Menurut Sony, solusi terbaik untuk menciptakan ekosistem yang sehat adalah mengurangi jumlah halte di sepanjang jalur kota. Trans Jatim diharapkan fokus pada rute jarak jauh antarterminal, sementara pergerakan penumpang di dalam koridor kota diserahkan kepada angkot.
Jika sistem point-to-point antarterminal ini diterapkan, Sony optimistis kedua belah pihak bisa berjalan beriringan tanpa ada yang dikorbankan. Penumpang jarak jauh terakomodasi dengan cepat, dan angkot tetap mendapatkan porsi pendapatan dari penumpang lokal.
Para sopir kini mendesak adanya evaluasi teknis menyeluruh terhadap fasilitas halte koridor satu. Mereka meminta pemerintah tidak terburu-buru menambah koridor baru sebelum konsep integrasi moda transportasi ini dibenahi secara matang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....