Kuota Per RW Jadi Dasar Seleksi Jalur Domisili SPMB Kota Batu

  • 16 Jun 2026 10:31 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Batu - Dinas Pendidikan Kota Batu memastikan seleksi jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak hanya mempertimbangkan jarak rumah ke sekolah. Proses seleksi juga memperhatikan pembagian kuota berdasarkan wilayah Rukun Warga (RW) untuk menjaga pemerataan penerimaan peserta didik.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Batu, Cahya Wisesa, mengatakan penentuan penerimaan pada jalur domisili tetap didasarkan pada jarak tempat tinggal calon siswa. Namun, setiap RW telah memiliki kuota tersendiri yang menjadi dasar seleksi.

“Jarak saja, terus itu per RW kan sudah masuk. Jadi misalkan ada beberapa daerah, per RW itu sudah dibatasi kuotanya,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Menurut Cahya, sistem tersebut diterapkan agar tidak terjadi penumpukan peserta didik dari satu wilayah tertentu. Dengan adanya kuota per RW, setiap kawasan memiliki kesempatan yang lebih merata untuk mengakses sekolah negeri.

Ia menjelaskan jumlah siswa yang diterima dari setiap RW hanya sekitar 30 hingga 40 persen dari total pendaftar yang berasal dari wilayah tersebut. Mekanisme ini dilakukan untuk mencegah terjadinya ketimpangan antarwilayah dalam proses penerimaan siswa baru.

“Per RW itu kita ambil kurang lebih 30 sampai 40 persen dari yang ada di RW itu. Jadi tidak ada nanti tumpang tindih antara RW,” jelasnya.

Selain sistem kuota wilayah, Disdik Kota Batu juga menyiapkan tim verifikasi untuk memastikan keakuratan data domisili calon peserta didik. Seluruh data yang diinput akan diverifikasi berdasarkan Kartu Keluarga yang sah.

Cahya menegaskan pihaknya tidak menerima surat keterangan sebagai pengganti dokumen kependudukan. Verifikasi dilakukan langsung oleh operator sekolah sebelum data masuk ke sistem pendaftaran.

“Nanti ada tim verifikasi di situ. Di operatornya nanti inputnya juga diverifikasi berdasarkan Kartu Keluarga. Kita tidak menerima surat keterangan,” tegasnya.

Ia menambahkan proses verifikasi dilakukan secara terbuka dengan melibatkan orang tua siswa secara langsung. Dengan sistem tersebut, seluruh data diverifikasi sejak awal sehingga tidak ada peserta yang gugur setelah dinyatakan diterima.

“Layarnya dihadapkan ke orang tua. Jadi verifikasinya di situ dan tidak ada verifikasi di akhir. Tujuannya supaya tidak ribet dan tidak menggugurkan murid yang sudah diterima,” tandas Cahya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....