Kurban Minim Plastik, Warga Kampung SIBA KLASIK Bawa Wadah Sendiri
- 27 Mei 2026 16:06 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Perayaan Iduladha di RT 02/RW 05 Kampung SIBA KLASIK, Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik berlangsung berbeda tahun ini. Warga menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim sampah atau zero waste cities.
Konsep tersebut diterapkan dengan mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai saat pembagian daging kurban. Warga diminta membawa wadah guna ulang dari rumah masing-masing untuk mengambil daging kurban.
Sejak pagi, suasana kampung terlihat ramai oleh aktivitas warga yang membawa ember, baskom, rantang hingga kotak makanan. Seluruh wadah yang dibawa warga sebelumnya telah didata oleh panitia untuk mempermudah proses distribusi.
Ketua RT 02 Kampung SIBA KLASIK, Saifudin Efendi mengatakan konsep ini merupakan hasil kesepakatan warga dalam musyawarah persiapan Iduladha. Menurutnya, persoalan sampah plastik selalu menjadi masalah setiap tahun setelah pembagian daging kurban.
“Setiap tahun plastik menumpuk setelah pembagian daging. Tahun ini warga sepakat mengganti dengan wadah guna ulang supaya lingkungan tetap bersih,” ujarnya, Rabu (27/05/2026).

Panitia kurban juga tidak menyediakan kantong plastik di area penyembelihan hewan. Warga penerima daging langsung datang membawa wadah masing-masing sesuai daftar yang telah dicatat panitia.
Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi menyebut konsep kurban minim sampah lahir dari kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan kampung. Ia menilai ibadah kurban juga perlu memperhatikan dampak limbah yang dihasilkan selama kegiatan berlangsung.
“Kami ingin tradisi kurban tetap berjalan dengan lingkungan yang terjaga. Warga juga lebih disiplin karena membawa wadah sendiri dari rumah,” katanya.
Selain mengurangi sampah plastik, panitia juga melakukan pemilahan limbah organik dan nonorganik selama proses penyembelihan berlangsung. Daun, sisa pakan ternak, hingga limbah organik hasil penyembelihan dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari remaja musala, karang taruna hingga kelompok ibu-ibu kampung. Mereka bergotong royong membantu proses penyembelihan, distribusi daging, hingga pembersihan area kegiatan.

Remaja musala membantu pengangkutan limbah organik ke tempat pengumpulan sementara. Sementara kelompok ibu-ibu bertugas membersihkan area pembagian daging agar tetap tertata dan bersih.
Karang taruna juga membantu mengatur arus warga saat pembagian daging berlangsung. Sistem pembagian dilakukan secara bergiliran untuk menghindari antrean panjang di area musala.
Salah satu warga, Nur Aini mengaku konsep pembagian daging menggunakan wadah guna ulang membuat lingkungan kampung terlihat lebih rapi. Menurutnya, tidak ada lagi tumpukan plastik bekas yang biasanya tercecer setelah kegiatan kurban selesai.
“Biasanya habis kurban banyak plastik tercecer. Sekarang lebih rapi karena warga sudah membawa tempat sendiri,” ucapnya.
Warga Kampung SIBA KLASIK berencana mempertahankan konsep kurban minim sampah tersebut pada perayaan Iduladha tahun berikutnya. Mereka juga ingin mengembangkan pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....