PWI Probolinggo Raya Gelar Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi”
- 26 Mei 2026 09:27 WIB
- Malang
RRI. CO. ID, Probolinggo - Persatuan Wartawan Indonesia Probolinggo Raya menggelar nonton bareng film dokumenter “Pesta Babi” dalam agenda refleksi kebangsaan, Sabtu (23/5/2026) malam. Kegiatan tersebut berlangsung hangat dan penuh diskusi dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Acara yang dikemas dalam konsep nobar dan dialog kebangsaan itu diikuti wartawan, mahasiswa, aktivis, hingga pegiat organisasi masyarakat. Puluhan anggota TNI juga tampak hadir dan mengikuti jalannya kegiatan hingga selesai.
Kegiatan dipandu langsung oleh Eko Hardianto selaku ketua panitia. Sementara Ketua PWI Probolinggo Raya, Babul Arifandi hadir sebagai pelindung kegiatan.
Sejak awal pemutaran, peserta terlihat serius mengikuti alur dokumenter yang menampilkan potret kehidupan sosial masyarakat Papua, budaya lokal, hingga dinamika yang berkembang di wilayah tersebut.
Usai pemutaran film, Eko Hardianto menyampaikan resensi singkat terkait isi dokumenter tersebut. Menurutnya, film itu menghadirkan berbagai sudut pandang sehingga penonton diajak memahami persoalan secara lebih utuh.
“Film ini menarik karena menyajikan banyak lapisan cerita. Ada tesis, antitesa, lalu penonton diajak mencari sintesa sendiri. Jadi bukan sekadar melihat siapa benar dan siapa salah, tetapi bagaimana memahami persoalan dari berbagai sudut,” ujarnya.
Ia menilai dokumenter semacam itu penting sebagai bahan refleksi bersama, terutama di tengah masyarakat yang mudah menerima potongan informasi tanpa memahami konteks secara menyeluruh.
“Kadang kita menerima isu secara cepat tanpa memahami konteks utuhnya. Film dokumenter seperti ini bisa menjadi ruang belajar agar kita lebih bijak melihat persoalan kebangsaan,” katanya.
Sementara itu, Babul Arifandi mengapresiasi terselenggaranya forum dialog tersebut. Menurutnya, ruang diskusi yang sehat perlu terus dijaga sebagai bagian dari pembelajaran bersama dalam kehidupan berbangsa.
“Kegiatan seperti ini bagus karena menghadirkan ruang dialog yang sehat. Kita bisa belajar mendengar pandangan yang berbeda tanpa harus saling menyalahkan,” kata Babul.
Ia menambahkan, pers memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga suasana kebangsaan tetap sejuk dan terbuka terhadap berbagai pandangan.
Dalam sesi diskusi, forum juga menghadirkan RA Muhammad Al-Fayyadl sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengulas berbagai persoalan di Papua, mulai dari pembangunan, pendidikan, hingga pendekatan sosial dan keamanan.
Menurutnya, Papua memiliki kompleksitas persoalan yang tidak bisa dipandang secara sederhana.
“Papua itu bukan sekadar isu keamanan atau politik. Di sana ada persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan soal rasa kepercayaan masyarakat kepada negara,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dari peserta terkait kondisi Papua, peran media, hingga tantangan menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
Kegiatan refleksi kebangsaan tersebut ditutup dengan ajakan untuk terus menjaga budaya dialog, menghormati perbedaan pandangan, serta memperkuat semangat persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....