Puasa dan Dzikir di Awal Dzulhijjah Jadi Sorotan Tausyiah Mutiara Pagi

  • 13 Mei 2026 06:27 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Keutamaan ibadah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah menjadi pembahasan utama dalam program Tausyiah Mutiara Pagi PRO 1 RRI Malang bersama Ustadzah Hj. Dra. Rukmini Amar. Masyarakat diajak memanfaatkan hari-hari mulia itu dengan memperbanyak puasa, dzikir, sedekah, dan amal saleh lainnya.

Ustadzah Rukmini mengutip Surat Al Fajr yang diawali sumpah Allah demi waktu fajar dan malam-malam tertentu. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

“Allah bersumpah demi fajar dan malam-malam yang sepuluh. Ini menunjukkan ada waktu-waktu istimewa yang harus dimanfaatkan manusia untuk mendekat kepada Allah,” ujarnya, Rabu (13/5/2026)

Ia menjelaskan bahwa salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah. Bahkan, puasa memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa seluruh amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa, karena puasa khusus untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya.

“Puasa itu nilainya sangat tinggi. Rasulullah juga bersabda bahwa siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan,” terang Ustadzah Rukmini.

Dalam tausyiah tersebut, ia turut mengingatkan umat Islam agar tidak melewatkan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah yang memiliki keutamaan besar. Menurutnya, meski tidak semua orang mampu berhaji ke Tanah Suci, Allah tetap memberikan peluang pahala yang luas melalui ibadah-ibadah ringan namun bernilai besar.

Selain puasa, narasumber menekankan pentingnya memperbanyak dzikir berupa tahlil, tahmid, dan takbir selama 10 hari pertama Dzulhijjah. Kalimat tauhid dinilai mampu menguatkan keimanan, sementara takbir menjadi sarana menundukkan ego manusia agar tidak sombong terhadap sesama maupun kepada Allah.

“Takbir itu mengingatkan manusia agar tidak membesarkan dirinya sendiri. Yang Maha Besar hanyalah Allah. Sedangkan tahmid bukan hanya ucapan Alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dalam rasa syukur melalui perbuatan baik,” katanya.

Ustadzah Rukmini juga mengajak masyarakat memperbanyak amal sosial seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu fakir miskin, dan menyantuni anak yatim. Ia menilai Dzulhijjah bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Di akhir kajian, ia mengingatkan bahwa Idul Adha dan ibadah kurban merupakan bagian dari pengorbanan dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah jasmani, rohani, dan harta agar kehidupan manusia menjadi lebih berkah dan bermanfaat bagi sesama.

“Kalau belum mampu berhaji, jangan berkecil hati. Allah tetap memberikan pintu pahala yang sama melalui amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas di 10 hari pertama Dzulhijjah,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....