Kota Malang menuju Ramah Lansia, Perempuan Jadi Garda Terdepan Perawatan Orang Tua
- 07 Mei 2026 07:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kota Malang tengah menghadapi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia atau lansia yang cukup signifikan. Berdasarkan data Kota Malang Dalam Angka 2023, jumlah lansia di Kota Malang mencapai sekitar 110.116 jiwa atau sekitar 13 persen dari total penduduk. Kondisi ini menandakan Kota Malang telah memasuki fase aging population, yakni meningkatnya populasi warga berusia lanjut yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Fenomena tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Malang melalui rapat koordinasi Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang beberapa waktu lalu. Kepala Bappeda Kota Malang, Dwi Rahayu SH, M.Hum menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan para lansia tetap dapat hidup sehat, bahagia, serta mendapatkan pelayanan yang layak.
Pemerintah Kota Malang juga mendorong penguatan kelembagaan Komda Lansia, Karang Werda, serta forum-forum lansia lainnya agar para lansia memiliki ruang untuk tetap aktif, produktif, dan berdaya di tengah masyarakat.
Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Dr. Yati Sri Hayati, S.Kp., M.Kes menilai bahwa keluarga tetap menjadi garda utama dalam merawat lansia di Indonesia. Menurutnya, budaya ketimuran yang masih kuat membuat sebagian besar lansia lebih nyaman tinggal bersama keluarga dibandingkan di fasilitas perawatan khusus.
“Kalau kita melihat kondisi saat ini, jumlah lansia semakin meningkat dan mayoritas adalah perempuan. Banyak dari mereka akhirnya tinggal bersama keluarga karena fasilitas perawatan lansia jumlahnya juga terbatas,” jelas Dr. Yati saat menjadi narasumber dialog di PRO 1 RRI Malang, Kamis (7/5/2026).
Ia mengungkapkan, dalam praktik sehari-hari perempuan menjadi sosok yang paling dominan dalam merawat lansia. Mulai dari istri, anak perempuan, menantu perempuan, hingga saudara perempuan sering kali menjadi caregiver utama di rumah.
“Perempuan itu biasanya yang menyiapkan makan, mengingatkan obat, memandikan, menemani ke rumah sakit, sampai memberikan dukungan emosional kepada lansia,” ujarnya.
Menurut Dr. Yati, perawatan lansia bukan sekadar membantu kebutuhan fisik, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman, dihargai, dan dicintai. Lansia membutuhkan perhatian sederhana seperti diajak berbincang, ditemani menonton televisi, atau sekadar duduk bersama keluarga.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab merawat lansia tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Sebab, caregiver perempuan juga memiliki peran lain sebagai ibu rumah tangga, pekerja, maupun pengasuh anak sehingga rentan mengalami kelelahan fisik dan mental atau burn out.
“Kadang perempuan itu dari bangun tidur sampai tidur lagi fokus merawat lansia, sementara dia juga harus mengurus anak dan pekerjaan rumah. Kalau tidak ada dukungan keluarga lain, caregiver bisa kelelahan,” katanya.
Karena itu, Dr. Yati mendorong adanya pembagian peran di dalam keluarga. Menurutnya, anak laki-laki maupun anggota keluarga lain juga harus ikut terlibat agar caregiver utama memiliki waktu istirahat dan menjaga kesehatan mentalnya.
“Misalnya hari kerja yang mendampingi anak perempuan, lalu akhir pekan gantian anak laki-laki atau anggota keluarga lain. Jadi semua terlibat dan caregiver tidak merasa sendirian,” jelasnya.
Ia menambahkan, lansia yang dirawat dengan penuh perhatian di lingkungan keluarga cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik dibandingkan mereka yang merasa diabaikan. Kedekatan emosional dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental lansia di masa tua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....