Nyawiji di Rantau: Hangatnya Festival Budaya Gresik di Jakarta

  • 04 Mei 2026 07:49 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Suasana Anjungan Jawa Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada Minggu (3/5/2026) siang terasa berbeda. Ratusan warga Gresik yang datang dari berbagai penjuru Jabodetabek berkumpul, saling menyapa, melepas rindu, dan merayakan identitas yang sama, Gresik.

Dalam balutan Festival Budaya Gresik dan Halal Bihalal Diaspora Gresik Jabodetabek, sekitar 700 peserta hadir membawa satu semangat yakni nyawiji, bersatu. Bukan sekadar temu kangen, acara ini menjadi ruang bertemunya kenangan, budaya, dan harapan akan masa depan kampung halaman.

Tawa dan obrolan hangat mengalir di antara para perantau yang sudah lama meninggalkan tanah kelahiran. Di sudut lain, panggung seni menghadirkan pertunjukan budaya yang membangkitkan nostalgia. Puncaknya, pagelaran “Tulajek, Gresik Nyawiji” oleh Komunitas Kota Seger sukses memikat perhatian, seakan membawa pulang suasana Gresik ke tengah ibu kota.

Namun, di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Festival ini bukan hanya soal budaya, tetapi juga tentang peran diaspora dalam membangun daerah.

Anggota DPR RI, Dr. Jazilul Fawaid mengingatkan bahwa masa depan Gresik tidak cukup bertumpu pada kekuatan industri semata. Menurutnya, pendidikan menjadi kunci utama untuk menciptakan generasi unggul.

“Gresik harus menyiapkan sumber daya manusia yang kuat. Pendidikan menjadi fondasi untuk mewujudkan Gresik yang maju,” ujarnya di hadapan para peserta.

Gagasan itu disambut hangat oleh kalangan akademisi. Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Imam Subchi menekankan bahwa budaya dan pendidikan tidak bisa dipisahkan.

“Budaya adalah jati diri, sementara pendidikan adalah jalan untuk berkembang. Keduanya harus berjalan beriringan,” katanya.

Diskusi yang berlangsung dalam sesi talkshow pun berkembang menjadi ruang refleksi bersama. Para tokoh menitipkan harapan agar Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat sinergi dengan diaspora, akademisi, ulama, dan pelaku usaha. Tujuannya satu: memastikan pembangunan Gresik berjalan berkelanjutan dan inklusif.

Momentum kebersamaan itu semakin lengkap dengan dikukuhkannya pengurus baru Paguyuban Warga Gresik di Jabodetabek periode 2025–2028. Masbukhin Pradhana dipercaya sebagai nahkoda baru, membawa harapan agar paguyuban tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah kontribusi nyata.

“Semangat kita adalah nyawiji. Diaspora Gresik punya potensi besar untuk ikut membangun daerah, dari mana pun kita berada,” ujar Masbukhin.

Ia menyebut paguyuban sebagai jembatan yang menghubungkan perantau dengan kampung halaman, gagasan dengan aksi nyata, serta budaya dengan masa depan.

Festival yang terakhir kali digelar sebelum pandemi pada 2018 ini diharapkan kembali menjadi agenda tahunan. Bukan sekadar tradisi, tetapi ruang untuk terus merawat kebersamaan.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, hari itu Gresik terasa begitu dekat. Dalam canda, dalam budaya, dan dalam semangat untuk terus berkontribusi, para diaspora membuktikan bahwa jarak bukanlah penghalang untuk tetap bersatu dan membangun masa depan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....