Biaya Produksi Meroket 25 Persen, PG Krebet Malang Tahan Diri Demi Petani

  • 02 Mei 2026 10:26 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Di balik bunyi sirine panjang tanda dimulainya musim giling, manajemen Pabrik Gula Krebet Baru II menyimpan segudang beban. Direktur Utama Rajawali I, Daniyanto, buka-bukaan bahwa biaya produksi kebun telah melambung hingga 25 persen, didorong oleh ongkos angkut dan harga plastik yang tak terkendali.

Belum lagi, harga belerang yang kian sulit didapat dan mahal. Meski demikian, Daniyanto menolak mundur.

“Kalau kami mundur, kasihan petani tebu,” katanya, Sabtu (2/5/2026).

Pabrik yang berulang tahun di hari yang sama itu memilih tetap memutar mesin, dengan keyakinan bahwa harga gula musim ini justru bisa lebih baik ketimbang tahun lalu. Perencanaan yang matang disebut Daniyanto sebagai rem darurat agar petani tidak ikut tenggelam dalam pusaran biaya tinggi.

Senada dengan itu, Komisaris Utama Rajawali I, Iqbal Andi Pakki, mengakui posisi industri gula saat ini sedang terjepit. Fluktuasi harga akibat persaingan global memaksa pabrik mengencangkan ikat pinggang tanpa boleh mengorbankan mutu.

“Kami mengapresiasi tim yang mampu membuat pengadaan bahan baku lebih efisien. Sinergi dengan petani akan terus kami dorong agar target perusahaan bisa tercapai,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Malang M. Sanusi yang membuka acara memilih menekankan aspek hubungan industrial. Tanpa menyinggung defisit atau harga plastik, ia meminta momentum giling ini dipakai untuk memperkuat kemitraan antara petani dan pabrik. “Hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkeadilan adalah kunci,” pesan Bupati.

Dengan beban biaya yang bertambah dan target kualitas yang tak boleh melorot, sirine di PG Krebet pagi itu bukan sekadar tanda mulai produksi. Ia jadi pengingat bahwa mesin-mesin giling tahun ini berputar di atas kertas tipis kalkulasi antara keberpihakan pada petani dan tekanan pasar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....