Regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Lindungi Pertanian Kota Batu
- 29 Apr 2026 06:59 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Batu - Sebagai "menara air" sekaligus sentra hortikultura Jawa Timur, Kota Batu memikul tanggung jawab yang tidak kecil dalam memelihara ekosistem kawasan pegunungannya.
Plt. Wali Kota Batu, Heli Suyanto menegaskan bahwa keberlangsungan sektor pertanian di wilayah itu sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga keselarasan antara laju pembangunan dan upaya pelestarian lingkungan hidup.
Heli mengungkapkan bahwa pemerintah kini tengah serius memperkokoh perlindungan terhadap lahan pertanian melalui regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dengan luasan sawah yang tersisa sekitar 295 hektare, Pemerintah Kota Batu memperketat proses perizinan alih fungsi lahan agar geliat investasi tidak sampai mengorbankan kedaulatan pangan daerah.
"Investasi memang menjadi faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi, namun tidak boleh sampai mengikis lahan produktif yang kita miliki. Kami telah melakukan pemetaan ulang sektor investasi, di mana setiap investor diwajibkan menyediakan ruang terbuka hijau serta turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian sumber-sumber air," tutur Heli, Selasa (28/4/2026).
Di samping perlindungan lahan, Heli juga menekankan perlunya pengelolaan pertanian yang lebih tertib di kawasan lereng atas. Mengambil pelajaran dari insiden banjir lumpur yang pernah melanda Dusun Banyuning, pemerintah saat ini sedang merancang Peraturan Wali Kota tentang Perlindungan Kawasan Hutan. Regulasi tersebut akan mewajibkan para petani di area berlereng untuk kembali menerapkan sistem terasering sebagai langkah pencegahan erosi dan antisipasi bencana alam.
"Bertani tanpa memperhatikan konservasi sama halnya dengan mengundang bencana. Kawasan atas Batu adalah sumber kehidupan bagi wilayah di bawahnya. Bila dikelola dengan kaidah yang tepat, termasuk penerapan terasering, maka wilayah hilir pun akan terlindungi dan pariwisata kita dapat terus bertumbuh secara berkelanjutan," tambahnya.
Dari sisi potensi ekonomi, Heli memaparkan keberhasilan ekosistem CooSAE (Cooperative Smart Agriculture Ecosystem) yang telah berhasil membawa 20 komoditas unggulan Kota Batu menembus pasar internasional, termasuk Dubai dan Singapura. Melalui perpaduan teknologi smart farming dengan manajemen berbasis korporasi rakyat, para petani Batu kini mampu mengendalikan harga jual dan terhubung secara langsung dengan pasar global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....