Petani Milenial: Pertanian Organik Terkendala Pangsa Pasar dan Biaya Produksi
- 28 Apr 2026 11:41 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pengembangan pertanian organik di Indonesia dinilai masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari biaya produksi hingga akses pasar yang belum merata.
Petani milenial Karangploso, Willy Kurniawan, mengungkapkan salah satu hambatan utama adalah tidak adanya perbedaan harga yang signifikan di tingkat pasar.
“Di pasar itu tidak ada bedanya antara organik dengan yang non-organik,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat petani enggan beralih ke sistem organik karena tidak sebanding dengan biaya dan usaha yang dikeluarkan.
“Petani jadi nggak mau beralih karena harganya sama, padahal biaya organik lebih tinggi,” katanya.
Selain itu, akses ke pasar khusus produk organik juga masih terbatas sehingga petani kesulitan menjangkau konsumen yang tepat.
“Rata-rata petani belum punya akses ke pasar organik yang menengah ke atas,” jelasnya.
Menurut petani milenial Karangploso tersebut, pertanian organik juga membutuhkan standar yang lebih ketat, termasuk dari segi lingkungan dan sumber daya.
“Kalau mau organik itu harus jauh dari lingkungan non-organik dan banyak syaratnya,” ungkap Willy.
Hal ini berdampak pada meningkatnya biaya produksi, bahkan dalam beberapa kasus membutuhkan fasilitas tambahan seperti greenhouse.
“Kalau full organik itu biayanya tinggi, bahkan bisa pakai greenhouse,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang mendukung pasar organik agar lebih berkembang.
“Kalau pasarnya jelas dan harganya bagus, petani pasti mau beralih ke organik,” pungkas Willy. (Meuthia Adzkiya)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....