BPBD Kabupaten Malang Ajak Warga Mitigasi Bencana Kekeringan sejak Dini
- 26 Apr 2026 05:56 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menggelar konferensi pers terkait kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kekeringan dan karhutla musim kemarau 2026. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Seni dan Budaya LPP RRI Malang pada Selasa, 21 April 2026.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mitigasi bencana. Ia menyebut sejumlah langkah sederhana sebenarnya bisa dilakukan namun sering diabaikan.
“Ada langkah mitigasi yang mudah dilakukan, tapi dalam satu dekade terakhir sering tidak dilakukan atau diabaikan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Salah satu langkah yang disoroti adalah pemanfaatan air hujan. Menurutnya, air hujan yang melimpah saat musim penghujan sering terbuang percuma tanpa dimanfaatkan.
Ia menjelaskan konsep panen air hujan sebagai solusi sederhana namun efektif. Cara ini dapat membantu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau panjang.
“Jangan sampai air hujan yang merupakan berkah justru dibuang sia-sia ke drainase atau sungai,” jelasnya.
Selain itu, Sadono juga menyoroti pentingnya sumur resapan yang kini mulai jarang diterapkan. Padahal, keberadaan sumur resapan dapat membantu menjaga cadangan air tanah.
Di sisi lain, perubahan pola tanam juga menjadi perhatian serius. Banyak lahan yang sebelumnya ditanami tanaman keras kini beralih ke tanaman musiman yang dipanen setiap tahun.
Menurutnya, kondisi ini berdampak pada berkurangnya daya serap air di lingkungan. Akibatnya, sumber mata air berpotensi menurun bahkan mengering.
Seorang petani asal Malang Selatan, Saiful, mengaku mulai merasakan dampak kekeringan pada awal musim kemarau panjang 2026. Ia menyebut ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian semakin berkurang saat musim kemarau tiba.
“Kami sekarang sering kesulitan air, terutama saat kemarau panjang, jadi hasil panen juga ikut menurun,” terangnya.
Menurutnya, perubahan pola tanam juga dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi masyarakat. Tanaman musiman dipilih karena dianggap lebih cepat menghasilkan dibanding tanaman keras.
Sadono menekankan bahwa upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada infrastruktur pemerintah. Tanpa dukungan masyarakat dalam menjaga lingkungan, berbagai program seperti penyediaan air bersih bisa menjadi tidak optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....