UB Olah Limbah MBG Jadi Pakan Ternak
- 11 Apr 2026 18:13 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menggagas inovasi pengolahan limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pakan ternak bernilai ekonomi. Program ini ditujukan untuk menekan volume sampah sekaligus mendorong ekonomi sirkular di Kota Malang.
Inisiatif tersebut dikembangkan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Malang melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta kelompok peternak yang tergabung dalam BUMDes. Program ini diklaim sebagai yang pertama di Indonesia.
Tahap awal, uji coba dilakukan di empat dapur MBG dengan melibatkan peternak lele serta kambing dan domba di wilayah Singosari.
Ketua Badan Inovasi dan Transformasi Sosial (BITS) FISIP UB, Syahirul Alim, mengatakan program ini lahir dari tingginya limbah dapur dan kebutuhan penerapan ekonomi sirkular.
“Limbah MBG bisa diputar jadi rupiah. Diolah menjadi pakan ternak, lalu hasilnya bisa diserap kembali oleh dapur atau dijual ke pasar,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Ia menjelaskan, limbah organik seperti nasi dan sisa sayur akan diolah menjadi berbagai bentuk pakan, mulai dari maggot, pelet, hingga pakan langsung, sesuai kebutuhan ternak. Skema kerja sama akan diformalkan melalui kontrak antara dapur MBG dengan BUMDes atau peternak.
“FISIP UB menjadi fasilitator, mulai dari kontrak kerja sama, distribusi limbah, hingga penyaluran hasil ternak,” kata Syahirul.
Koordinator Wilayah BGN Kota Malang, M. Atho’illah, menyebut satu dapur MBG menghasilkan 5–10 kilogram limbah makanan per hari. Dengan 74 SPPG aktif dan target hingga 87 unit, potensi limbah dinilai sangat besar.
“Kalau limbah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, tentu sangat baik. Selama ini limbah makanan menjadi tantangan,” ujarnya.
BGN, lanjutnya, membuka peluang kerja sama dengan catatan adanya laporan dan evaluasi program secara berkala.
Kepala SPPG Sukoharjo 1 Klojen, Muhammad Wisam Anugrah, menilai program ini mampu meningkatkan efisiensi operasional dapur.
“Selain mengurangi sampah, juga memberi nilai tambah ekonomi,” katanya.
Sementara itu, pengelola BUMDes Ardiles Desa Ardimulyo, Singosari, Misbahul Munir, optimistis program ini dapat menekan biaya pakan ternak.
“Limbah sayur dan nasi bisa mengurangi ketergantungan pakan pabrikan. Kalau berjalan baik, ini sangat menguntungkan,” ujarnya.
Program ini diharapkan menjadi model pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular yang mampu mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....