BMKG Prediksi Kemarau 2026 Jawa Timur Lebih Kering

  • 11 Mar 2026 05:08 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi musim kemarau 2026 di Provinsi Jawa Timur yang berpotensi berlangsung lebih kering dari kondisi normal. Prediksi ini didasarkan pada dinamika atmosfer dan lautan yang menunjukkan penguatan fenomena El Nino pada paruh akhir tahun.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Supraiytno, menyampaikan dalam sesi zoom bahwa kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan netral hingga pertengahan 2026. “Selanjutnya El Nino diprediksi menguat menjadi kategori lemah hingga moderat hingga akhir tahun dengan peluang 50–60 persen,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

BMKG memprediksi awal musim kemarau di Jawa Timur dominan terjadi pada Mei 2026 yang mencakup 43 Zona Musim atau sekitar 56,9 persen wilayah. Sementara itu, 26 zona musim diperkirakan mulai kemarau pada April dan lima zona lainnya pada Juni.

Jika dibandingkan dengan periode normal 1991–2020, awal musim kemarau tahun 2026 diprediksi mengalami kemunduran di 36 zona musim. Sebanyak 23 zona diperkirakan tetap normal dan 15 zona lainnya mengalami kemajuan musim kemarau.

Puncak musim kemarau diprediksi dominan terjadi pada Agustus 2026 yang mencakup sekitar 70,9 persen wilayah Jawa Timur. Adapun sebagian wilayah lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau lebih awal pada Juli 2026.

BMKG juga memperkirakan sifat hujan selama musim kemarau berada pada kategori bawah normal di 75,5 persen wilayah Jawa Timur. Kondisi ini menunjukkan potensi curah hujan lebih rendah sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah.

Durasi musim kemarau diprediksi cukup panjang, terutama pada rentang 22 hingga 24 dasarian di sekitar 23 persen wilayah Jawa Timur. Wilayah lain diperkirakan mengalami durasi kemarau antara 16 hingga 21 dasarian.

BMKG memberikan sejumlah rekomendasi bagi sektor pangan dan hortikultura untuk menyesuaikan kalender tanam serta menggunakan varietas tanaman tahan kering. Selain itu, sektor sumber daya air diimbau memaksimalkan panen air hujan guna menjaga ketersediaan air masyarakat dan irigasi.

Anung menegaskan bahwa informasi prediksi musim kemarau ini merupakan peringatan dini yang perlu dimanfaatkan seluruh pemangku kepentingan. “Informasi ini diharapkan menjadi dasar aksi dini untuk mengurangi risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga potensi kebakaran lahan dan hutan,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....