Bibit Siklon Picu Angin Kencang di Malang, Masih Berpotensi Terjadi

  • 09 Mar 2026 21:35 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Angin kencang yang melanda wilayah Malang dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh adanya pusat tekanan rendah atau bibit siklon di perairan selatan Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat potensi angin kencang masih bisa terjadi hingga beberapa waktu ke depan.

Prakirawan BMKG Klimatologi Malang, Ahmad Lutfi, menjelaskan bibit siklon tersebut berada di perairan timur Australia namun posisinya cukup jauh di selatan Pulau Jawa. Sistem ini telah terbentuk sejak 6 Maret dan terus menguat hingga mencapai puncaknya pada sore hingga malam hari.

“Memang dalam beberapa hari ini terjadi peningkatan kecepatan angin karena adanya pusat tekanan rendah atau bibit siklon di selatan Jawa. Dampaknya masih bisa dirasakan hingga hari ini bahkan esok,” ujar Ahmad Lutfi dalam Halo RRI - RRI Malang, Senin 9 Maret 2026.

Menurutnya, selama bibit siklon tersebut masih bertahan di wilayah selatan, masyarakat di Malang Raya masih berpotensi merasakan dampak berupa peningkatan kecepatan angin.

Berdasarkan pengamatan Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Karangploso, kecepatan angin tertinggi tercatat mencapai 41 kilometer per jam pada pukul 16.50 WIB pada hari sebelumnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi dampak angin kencang, terutama yang dapat dilihat secara visual di lingkungan sekitar.

“Secara visual masyarakat bisa melihat dari dampaknya, misalnya ranting atau batang pohon yang bergoyang lebih kuat dari biasanya, bahkan tiang listrik juga bisa ikut bergoyang,” jelasnya.

Meski terjadi bersamaan dengan hujan dan angin kencang, Lutfi menegaskan kondisi tersebut belum berkaitan dengan masa pancaroba. Tanda-tanda pancaroba biasanya ditandai dengan hujan yang disertai badai petir atau guntur, yang hingga saat ini belum terlihat.

BMKG meminta masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan selama 24 jam ke depan, karena peluang terjadinya angin kencang masih ada selama bibit siklon di selatan Jawa masih bertahan. (Annisa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....