SLB Bhakti Luhur Kembangkan Potensi Difabel
- 02 Mar 2026 14:31 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Difabel bukanlah kekurangan, melainkan potensi yang bisa dikembangkan. Cara pandang ini menjadi dasar pendidikan di SLB Bhakti Luhur Malang dalam membangun kemandirian anak berkebutuhan khusus.
Kepala Sekolah SLB Bhakti Luhur Malang, Sr. Yohana Fransiska Mai Muri, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa konsep difabel berdaya berangkat dari penerimaan dan kasih sayang.
“Difabel itu bukan kekurangan, tetapi apa yang bisa dikembangkan. Kalau anak-anak sudah diterima dan dicintai, mereka punya kesempatan untuk mengembangkan minat, potensi, dan bakatnya untuk berkarya. Ketika mereka berkarya, mereka akan diterima masyarakat,” ujarnya dalam Dialog Malang Siang Ini Pro 1 RRI Malang, Minggu (1/3/2026)
Menurutnya, kemandirian yang dibangun tidak hanya soal fisik, tetapi juga emosional dan sosial. “Anak-anak perlu mandiri secara emosional, mampu mengelola perilaku, dan percaya diri saat berada di tengah masyarakat. Itu yang kami bentuk secara bertahap,” jelasnya
Dalam penerapan kurikulum, sekolah menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan masing-masing siswa. Program Individual Education Plan (IEP) diterapkan karena setiap anak memiliki gaya belajar berbeda.
“Semua ada program individual, karena gaya belajar anak beda-beda. Kami menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhannya, jadi tidak bisa disamaratakan,” katanya.
Tahapan pendidikan dimulai dari kemandirian pribadi sebelum masuk pada aspek akademik maupun vokasional.
“Fokus pertama kami adalah membantu anak agar bisa menolong dirinya sendiri, seperti makan dan mandi sendiri. Kalau sudah mampu, baru lanjut ke perilaku dan pembelajaran,” tuturnya.
Ia mencontohkan, pada anak dengan autisme, ketenangan menjadi kunci utama sebelum proses belajar dimulai.
“Kalau anak autis sudah tenang, dia bisa belajar. Tapi kalau belum, kita tidak bisa memaksakan akademik. Semua ada tahapannya,” ujarnya.
Jika secara akademik anak mengalami keterbatasan, sekolah akan menggali potensi lain yang dimiliki.
“Ada anak yang duduk di kursi roda dan tidak bisa bicara, tetapi tangannya bagus. Maka kami beri pelatihan yang menggunakan tangannya. Jadi tetap ada ruang untuk berkembang,” ungkapnya.
Setelah kemandirian dasar terbentuk, siswa diarahkan pada keterampilan vokasional sesuai bakat dan minat. Beragam pelatihan diberikan, mulai dari membuat bakso dan minuman, melukis, membuat telur asin, menjahit, sablon, membordir, hingga keterampilan salon, membatik, dan membuat pangsit.
Terkait tantangan, Sr. Yohana mengakui bahwa pola asuh orangtua masih menjadi pekerjaan rumah.
“Kadang orangtua terlalu memanjakan. Apa-apa dilayani. Padahal kalau terus dilayani, anak tidak belajar mandiri,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai pandangan masyarakat di Jawa Timur relatif semakin baik. Namun, stigma masih muncul dalam bentuk belas kasihan berlebihan.
“Kasihannya lebih tinggi. Menganggap difabel itu perlu terus ditolong. Padahal mereka juga punya kemampuan,” katanya.
Untuk menghapus stigma tersebut, sekolah aktif mempromosikan karya siswa melalui media sosial, pameran, hingga pentas seni.
“Kami promosikan karya mereka lewat media sosial. Kalau ada pameran karya anak, kami ikut. Kami juga diundang pentas seni, bahkan pernah melakukan opera bersama artis. Biar orang tahu bahwa anak-anak ini punya potensi,” ujarnya.
Melalui pendekatan berbasis penerimaan, program individual, serta penguatan keterampilan vokasional, SLB Bhakti Luhur Malang terus berupaya membentuk anak difabel yang mandiri, percaya diri, dan mampu berkarya di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....