Warga Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu Didorong Terapkan “Zero Waste”
- 26 Feb 2026 13:01 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Sebanyak 50 rumah tangga di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, menghasilkan 757,15 kilogram sampah hanya dalam delapan hari. Data ini terungkap dalam Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) yang menunjukkan 66,8 persen timbulan sampah didominasi sampah organik.
Kegiatan AKSA dilaksanakan pada 11–18 Februari 2026 sebagai bagian dari program Zero Waste Cities. Riset ini menjadi pijakan awal untuk mendorong pengurangan sampah dari sumber di tingkat rumah tangga.
Program tersebut merupakan kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo, TPS3R Jalibar Berseri, dan ECOTON. Selama delapan hari, sampah dipilah ke dalam tiga kategori utama, yakni organik, daur ulang, dan residu.
Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, menyebut hasil AKSA menjadi dasar pengelolaan sampah yang lebih efektif. “Mudah-mudahan data ini menjadi landasan agar pengelolaan sampah di desa jauh lebih mudah melalui pengangkutan terpilah,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan, pengangkutan terpilah memungkinkan penyelesaian sampah di tingkat rumah tangga dalam satu hari. Langkah ini dinilai dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja sekaligus memperkuat komitmen bersama dengan pemerintah daerah.
.webp)
Dari total sampah yang terkumpul, sampah organik menjadi komponen terbesar dengan persentase 66,8 persen. Sampah tersebut didominasi sisa makanan, kulit buah, dan sayuran yang konsisten muncul setiap hari pengamatan.
Dominasi sampah organik memiliki dua sisi yang berlawanan. Jika tidak dikelola, sampah ini berpotensi menimbulkan bau dan emisi metana, namun jika dikomposkan justru dapat menekan beban TPA secara signifikan.
.webp)
Perwakilan ECOTON, Tonis Afrianto, menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan program kolaborasi dengan DLH Kota Batu. Program tersebut bertajuk Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana untuk mewujudkan kawasan zero waste.
“Pengelolaan sampah berbasis sumber harus dimulai dengan sistem pengangkutan terpilah dan kampanye pengurangan timbulan sampah,” kata Tonis.
Ia menegaskan, sampah organik yang mendominasi harus menjadi fokus utama penyelesaian.
Menurut Tonis, Kota Batu tidak sendirian dalam menghadapi persoalan sampah.
“Banyak kota di Indonesia dan Asia masih mencari solusi terbaik, namun pengurangan dan pembatasan adalah langkah paling utama,” tegasnya.
Ia mencontohkan regulasi pembatasan plastik sekali pakai sebagai instrumen penting pengendalian sampah. Kebijakan tersebut dinilai efektif menekan timbulan residu di tingkat rumah tangga.
Sementara itu, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Batu, Eni Maulidiyah, menilai data AKSA sangat strategis. Data ini disebut mampu menjadi dasar penyelesaian persoalan sampah kawasan.
“Composting, eco enzyme, dan maggot wajib ada di TPS3R sebagai hilir pengelolaan sampah,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya edukasi door to door agar masyarakat memahami pemilahan sampah.
Selain organik, sampah residu tercatat sebesar 17,1 persen, termasuk plastik multilayer dan puntung rokok. Temuan lain yang krusial adalah popok sekali pakai dengan persentase 8 persen yang memerlukan penanganan khusus.
Berdasarkan riset tersebut, tim merekomendasikan penguatan pemilahan dari sumber, sistem pengangkutan terpilah, serta pembentukan Tim Penyuluh Zero Waste Kawasan. Dengan data dan kolaborasi lintas sektor, Desa Oro-Oro Ombo dinilai memiliki pijakan kuat menuju kawasan minim sampah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....