Bangun Budaya Pilah Sampah di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu

  • 13 Feb 2026 16:22 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Sampah menjadi masalah serius hingga saat ini yang harus segera di atasi. Salah satu Gerakan telah dilakukan oleh TPS3R Jalibar Berseri, Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo, DLH Kota Batu Bersama ECOTON. 50 rumah tangga berpartisipasi dalam program pengelolaan sampah yang berbasis sumber Zero Waste Cities di Kota Batu pada Kamis, 12 Februari 2026. Program ini menekankan pemilihan sampah dari sumbernya.

Koordinator program Titik Setyowati mengatakan bahwa sebelum implementasi program, diadakan Analisis Sampah (AKSA) di skala RW. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui komposisi timbulan sampah di Kawasan RW 05 desa Oro-Oro Ombo.

“Disini 50 rumah tangga terlibat sebagai relawan untuk memberi sampah hariannya dalam keadaan terpilah jadi 3 jenis, yaitu Organik, Daur Ulang dan Residu lalu kita timbang perjenisnya,”imbuhnya.

Ketua TPS3R Jalibar Berseri yang merupakan alumni Zero Waste Academy 2026 ini menambahkan AKSA menjadi ajang memilah sampahd dari sumbernya. Jika sampah sudah terpilah dari sumber, maka akan mudah prosesnya di TPS3R nantinya. Bisa dikatakan ini merupakan ruang edukasi dalam memilah sampah rumah ke rumah atau Door to Door Education(DTDE).

Salah satu responden Supriaten (52) mengatakan senang dengan keterlibatannya dalam program ini. Ia mengatakan memilah sampah sebenarnya tidak sulit, hanya membutukan konsisten dan edukasi sesering mungkin.

“Saya sudah terbiasa memilah sampah agar tidak tercampur, kadang botol-botol saya donasikan,” tambahnya.

Sampah dari 50 rumah tangga yang sudah terkumpul selanjutnya dipilah lebih spesifik menjadi 40 jenis untuk mengetahui jenis sampah terbanyak sepanjang AKSA dilakukan.

Tonis Afrianto, Project Manager Zero Waste Cities ECOTON sendiri mengatakan AKSA berguna dalam menentukan kebijakan pengelolaan sampah dimasa dating.

“Membangun system pengelolaan sampah sendiri tidak boleh ngawur, harus tahu terlebih dahulu jenis sampah yang mendominasi kawasan tersebut. Jika sampah jenis Organik yang mendominasi, maka perlu ada system pengelolaan yang tepat, misal rumah kompos, komposter di kawasan RT/RW, biogas dan lain sebagainya, sehingga sampah organik ini bisa tertangani disumber tanpa ke TPA,”tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Eni Maulidiyah, Fungsional Bidang Persampahan DLH Kota Batu, bahwa di kota Batu sudah disiapkan rumah kompos untuk mengatasi timbulan sampah organik skala kota.

“Sepanjang tahun 2025 kami sudah membangun 16 titik Rumah Kompos (RuKom) di kota Batu, ini juga jadi kebijakan kota untuk menuntaskan permasalahan pengelolaan sampah salah satunya jenis organik. Kami menghimbau masyarakat kota Batu agar selalu memilah sampah dari sumber sehingga sampah organik dapat dikelolah dengan mudah” terangnya.

Sampah yang sudah terpilah sejak dari sumber akan diangkut secara terpilah juga dalam kendaraan roda tiga. AKSA akan dilakukan selama 8 hari berturut-turut, hingga diperoleh sebuah data timbulan dan komposisi sampah . Kedepan data ini akan berguna untuk rencana induk pengelolaan sampah di sebuah kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....