Napak Tilas, Pendalaman Silsilah Leluhur Jawa-Bali di KBP

  • 06 Feb 2026 19:29 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Rangkaian napak tilas leluhur Jawa–Bali yang digagas keluarga besar Karangasem kembali berlanjut di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Pada Jumat, 6 Februari 2026, Jero Mangku Wayan Bawarta, kakak kandung Wakil Bupati Karangasem Bali Pandu Prapanca Lagosa, hadir bersama rombongan sekitar 30 umat Hindu masyarakat adat Bali untuk mendalami silsilah Mpu Purwa dan keterkaitannya dengan masyarakat Karangasem.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut langsung dari kehadiran Wakil Bupati Karangasem sehari sebelumnya, Kamis, 5 Februari 2026. Jika kunjungan Wakil Bupati menandai pembuka kerja sama budaya, maka kehadiran Jero Mangku Wayan Bawarta memperdalam aspek spiritual, genealogis, dan kesadaran sejarah yang berakar di Panawidyan, Tanah Malang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan di Situs Ken Dedes, yang berada di kawasan Kampung Budaya Polowijen. Ritual ini menjadi titik awal perjalanan, dimaknai sebagai penghormatan kepada leluhur sekaligus membuka jalan batin untuk menelusuri asal-usul garis keturunan yang menghubungkan Jawa dan Bali.

Usai sembahyang di Situs Ken Dedes, rombongan kemudian menuju Pawon Kampung Budaya Polowijen. Di ruang pawon—yang dimaknai sebagai pusat peradaban, dialog, dan pengikat persaudaraan—Jero Mangku Wayan Bawarta disambut oleh penggagas KBP, Ki Demang, bersama warga budaya dan mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14.

Dalam forum tersebut, Ki Demang membuka lembaran sejarah silsilah leluhur yang berakar dari Panawidyan. Ia menjelaskan bahwa silsilah Mpu Purwa berakar dari garis pendeta Hindu Jawa kuno yang hidup pada masa peralihan Kerajaan Medang–Kediri hingga Singhasari. Panawidyan (Panawijen), wilayah yang kini dikenal sebagai Polowijen, Malang, merupakan pusat spiritual dan kepanditaan tempat Mpu Purwa bermukim dan mengajarkan nilai-nilai dharma.

Ki demang menjelaskan peta silsilah raja raja jawa dan Bali dari trah Mpu Purwa (Foto: KBP)

Dalam sumber sejarah dan tradisi tutur, leluhur tertua yang tercatat adalah Mpu Wiranatha, seorang pendeta besar dan suami dari Dewi Amertha Manggali. Dari garis inilah lahir keturunan pendeta yang memiliki pengaruh spiritual dan politik di Jawa Timur. Putra Mpu Wiranatha adalah Mpu Purwanatha, pandita utama yang kemudian menurunkan dua figur penting dalam sejarah Nusantara, yakni Mpu Purwa dan Ken Dedes.

Mpu Purwa dikenal sebagai pendeta sakti Panawidyan sekaligus ayah dari Ken Dedes, perempuan agung yang kelak menjadi permaisuri Ken Arok dan ibu para raja Singhasari–Majapahit. Dari sinilah sejarah Jawa klasik menemukan porosnya, yang kemudian berkelindan dengan perjalanan sejarah Bali.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Mpu Purwa menikah dengan putri Aji Tatar, sebuah pernikahan strategis yang menghubungkan garis kepanditaan Jawa dengan elit bangsawan yang berkembang di Bali. Dari pernikahan ini lahir Arya Tatar, tokoh kunci penyebaran keturunan Mpu Purwa ke Pulau Bali.

Arya Tatar kemudian menurunkan Ki Gusti Pasek Agung Anglurah Tatar, yang mengukuhkan identitas keturunan ini sebagai kelompok Pasek Tatar. Pada generasi berikutnya lahir De Pasek Tatar atau De Pasek Lurah Tatar, yang diangkat sebagai Amancabhumi di Gelgel, Bali, pada masa pemerintahan Sri Tapahulung sekitar tahun 1324 M. Pengangkatan ini menandai pengakuan resmi kerajaan Bali terhadap garis keturunan Mpu Purwa sebagai pemegang peran administratif, spiritual, dan sosial.

Seiring waktu, keturunan Pasek Tatar berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah di Bali, membentuk klan-klan besar seperti De Pasek Tatar, De Pasek Penataran, De Pasek Telengan, De Pasek Bale Agung, De Pasek Bale Agung Bukit Cemeng, serta De Pasek Pidpid (Pidpid Kajanan). Klan-klan ini dikenal memiliki peran penting dalam kehidupan adat, kepanditaan, dan kepemimpinan desa, sembari menjaga ingatan kolektif bahwa leluhur mereka berasal dari Panawidyan, Tanah Malang.

Dalam keterangannya, Jero Mangku Wayan Bawarta menegaskan bahwa kedatangannya merupakan amanah sejarah dan spiritual.

“Kehadiran kami hari ini adalah tindak lanjut dari napak tilas Wakil Bupati Karangasem kemarin. Kami ingin memperdalam silsilah leluhur Mpu Purwa agar garis sejarah ini tidak terputus dan tetap hidup di tengah generasi Bali,” ungkapnya.

Ia juga menitipkan pesan penting agar terjalin kerja sama antara Bali dan Malang.

“Membangun kembali kesadaran akan kejayaan Singhasari bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi wujud bakti kepada leluhur. Dari sini, kerja sama budaya Jawa–Bali harus dirajut demi menjaga dharma dan peradaban,” tambahnya.

Dalam narasi historis, Mpu Purwa juga dikenal melalui kisah kutukannya terhadap penduduk Panawidyan yang tidak melaporkan penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung. Kisah ini dimaknai bukan semata kemarahan pribadi, melainkan simbol runtuhnya tatanan moral lama dan lahirnya era baru Singhasari.

Bagi keturunan Pasek Tatar di Bali, Mpu Purwa bukan hanya leluhur biologis, tetapi juga leluhur spiritual, penjaga dharma, dan pengikat sejarah Jawa–Bali, menegaskan bahwa perpindahan leluhur ke Bali bukan pemutusan sejarah, melainkan kelanjutan peradaban Nusantara.

Setelah kegiatan di Pawon KBP, rombongan Jero Mangku Wayan Bawarta melanjutkan perjalanan menuju Krematorium Marga Moksa di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, untuk menghadiri prosesi kremasi. Usai dari krematorium, rombongan kemudian bertandang ke Pantai Selatan Balekambang, yang dimaknai sebagai penutup perjalanan spiritual, menyelaraskan hubungan manusia, leluhur, dan alam semesta. (Mey)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....