Wabup Karangasem Bali Napak Tilas Leluhur di KBP

  • 05 Feb 2026 22:58 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Jejak sejarah lintas pulau kembali dirajut di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Wakil Bupati Karangasem, Bali, Pandu Prapanca Lagosa, Kamis 5 Februari 2026 melakukan napak tilas leluhur Empu Purwa-tokoh pandita sakti pada masa Kerajaan Singhasari yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Pasek di Karangasem. 

Kunjungan ini bukan sekadar lawatan seremonial, melainkan perjalanan batin untuk menautkan kembali akar sejarah, persaudaraan, dan peradaban Nusantara.

Wabup Pandu Lagosa hadir bersama istri, Luh Putu Anggraeni Wijayanti, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, Putu Eddy Surya Artha, jajaran protokoler, Pandita Sri Empu, serta sejumlah mangku adat dari Karangasem. 

Rombongan ini menegaskan bahwa perjalanan ke Polowijen adalah perjalanan spiritual sekaligus historis, menyusuri asal-usul leluhur yang berakar di Tanah Malang.

Wabup Karangasem diterima Wawali Kota Malang di Gazebo Balaikota Malang (Foto: KBP)

Sebelum menuju Kampung Budaya Polowijen dan Situs Ken Dedes, rombongan Wabup Karangasem terlebih dahulu disambut secara resmi di Balai Kota Malang oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, bersama istri Hani Farida selaku Ketua TP PKK Kota Malang. 

Turut mendampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Diah Ayu Kusumawardani, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Suparno, Kepala Disporapar Baihaqi, Kepala Dikbud Suwarjana, Kepala Diskominfo M. Nur Widianto, Camat Blimbing I Ketut Widi Eika Wirawan, Lurah Polowijen Qurrota Purbo Wardana, serta penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Malang menyampaikan bahwa Kota Malang kini sejajar dengan sejumlah kabupaten di Provinsi Bali dalam hal kunjungan wisata berbasis budaya. 

"Malang tidak hanya menawarkan wisata alam dan perkotaan, tetapi juga kekayaan heritage yang berakar kuat pada sejarah. Kampung Budaya Polowijen disebut sebagai representasi masa klasik Kota Malang, sementara Kampung Heritage Kajoetangan menjadi penanda kuat periode kolonial," jelasnya.

Usai penyambutan di Balai Kota, rombongan bertandang ke Kampung Budaya Polowijen. Wabup Karangasem dipersilakan memasuki Pawon KBP oleh Ki Demang dan disambut dengan Tari Topeng Malangan. 

Suasana kian hangat saat rombongan mencicipi kudapan tradisional, jamu, dan dawet-sajian khas Pawon KBP yang disiapkan mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak Kelompok 14 dimana Pawon KBP yang merepresentasikan dapur sebagai pusat peradaban, dialog, dan persaudaraan.

Dalam sambutannya di Pawon KBP, Wabup Pandu Prapanca Lagosa menegaskan keterkaitan historis antara leluhur masyarakat Pasek di Karangasem dengan Mpu Purwa, seorang pandita sakti dari Jawa (Panawijen). Ia menjelaskan bahwa keturunan Mpu Purwa, khususnya melalui garis Arya Tatar, berkembang di Bali dan berperan penting dalam struktur sosial, budaya, dan pemerintahan, termasuk di wilayah Karangasem.

“Kami datang ke sini untuk napak tilas leluhur kami, merajut kembali silaturahmi dan tali persaudaraan. Ini sekaligus ikhtiar mengajak bekerja sama membangun kembali kejayaan Singhasari yang berakar dari Empu Purwa dan putranya, Ken Dedes, melalui Kampung Budaya Polowijen,” ungkap Pandu Lagosa.

Ia juga menyampaikan komitmen para purusa atau penerus keturunan untuk bergotong royong membangun merajan bersama di kawasan Polowijen sebagai wujud bakti kepada leluhur. 

Menurutnya, hal itu penting agar garis sejarah tidak terputus dan generasi mendatang tetap mengenali bahwa leluhur mereka berasal dari Panawijen, Tanah Malang.

Setelah perbincangan hangat di Pawon KBP, Ki Demang yang juga Ketua Pokdarwis Kota Malang mengajak Wabup Karangasem beserta rombongan menuju Situs Ken Dedes. Di situs sakral tersebut, rombongan melakukan ritual dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sejarah besar yang pernah tumbuh di tanah Singhasari.

Penyerahan cinderamata Udeng rajah Kolocokro dari Ki Demang kepada Wabup Karangasem (Foto: KBP)

Pada kesempatan itu, Ki Demang menyerahkan kain udeng berajah Kolocokro kepada Wabup Karangasem. Kain ikat kepala tersebut dimaknai sebagai simbol tekad, perlindungan, dan doa agar cita-cita membangun kembali kejayaan Singhasari—yang bertitik pangkal dari Situs Ken Dedes—dapat terwujud.

“Saya menyambut niat baik Pak Wabup dan saudara-saudara kami dari Bali untuk menjalin kerja sama pelestarian kawasan cagar budaya Polowijen. Melalui udeng rajah Kolocokro ini, segala yang sulit semoga dimudahkan,” tutur Ki Demang, yang bernama asli Isa Wahyudi, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang.

Napak tilas ini menjadi penanda bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan jembatan hidup yang menghubungkan generasi, wilayah, dan identitas. Dari Pawon hingga Situs Ken Dedes, Kampung Budaya Polowijen kembali menegaskan diri sebagai ruang perjumpaan sejarah Nusantara-tempat leluhur diperingati, persaudaraan dirajut, dan masa depan kebudayaan dirancang bersama. (Mey)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....