Kenali Kekuatan Diri dan Karakter Positif Pada Remaja

  • 29 Agt 2025 00:58 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Psikolog perkembangan John Santrock menyebut, masa remaja adalah fase penting dalam pencarian jati diri dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Sementara penelitian Jean Twenge menunjukkan bahwa lonjakan penggunaan media digital berhubungan dengan meningkatnya gejala depresi dan perasaan kesepian di kalangan remaja.

Penguatan karakter dinilai penting agar remaja mampu menghadapi dinamika kehidupan secara sehat dan adaptif. Thomas Lickona menekankan, pendidikan karakter merupakan pondasi bagi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki komitmen moral dan tanggung jawab sosial.

Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan lima nilai utama dalam Penguatan Pendidikan Karakter melalui Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018. Nilai tersebut meliputi religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Psikolog Martin Seligman bersama Christopher Peterson juga menemukan bahwa individu yang mengenali dan mengembangkan kekuatan karakternya cenderung lebih bahagia, percaya diri, serta memiliki motivasi intrinsik yang kuat.

Penelitian Shoshani dan Slone menambahkan, pengembangan karakter sejak usia remaja berkontribusi pada prestasi akademik sekaligus menekan perilaku menyimpang. Salah satu pendekatan efektif untuk menanamkan nilai karakter adalah melalui experiential learning.

Teori David Kolb menjelaskan bahwa pembelajaran paling efektif terjadi ketika remaja terlibat langsung dalam pengalaman, kemudian merefleksikannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari - hari.

Workshop interaktif dengan diskusi, simulasi, dan refleksi menjadi sarana yang dapat membantu remaja memahami serta mempraktikkan nilai karakter secara nyata.

Untuk mendalami fenomena ini, sebanyak 33 remaja di Malang dan Makassar mengikuti workshop interaktif bertajuk “Pemberdayaan Remaja melalui Penguatan Nilai - Nilai Karakter Positif” yang digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang, berkolaborasi dengan Halo Jiwa Indonesia.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi para remaja untuk lebih mengenali diri, mengasah potensi, serta memperkuat nilai - nilai karakter melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan partisipatif. Kegiatan yang berlangsung di dua kota ini dirancang dengan pendekatan experiential learning.

Peserta diajak terlibat langsung melalui diskusi kelompok, permainan edukatif, simulasi peran, hingga refleksi pribadi. Lima sesi utama yang diberikan meliputi mengenal diri dan potensi, pengenalan nilai karakter positif, komunikasi empatik, pengelolaan emosi, serta penguatan kepemimpinan dan aksi komunitas.

“Remaja saat ini menghadapi tantangan besar di era digital, mulai dari krisis identitas hingga tekanan sosial. Karena itu, penting bagi mereka memiliki bekal nilai karakter agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berdaya,” ujar Dewi Fatmasari Edy, ketua tim pelaksana kegiatan, Jum'at (29/8/2025).

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman peserta terkait konsep karakter positif, keterampilan komunikasi, serta strategi pengelolaan emosi. Melalui lembar refleksi, para peserta juga mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih mengenal diri, percaya diri, dan termotivasi untuk menerapkan nilai karakter dalam kehidupan sehari - hari.

Tim penyelenggara menyebut, langkah ini menunjukkan bahwa remaja tidak hanya memahami konsep karakter positif, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial.

Ke depan, program penguatan karakter ini diharapkan terus berlanjut dengan jangkauan lebih luas, melibatkan peran orang tua, sekolah, hingga komunitas. Dengan demikian, tercipta ekosistem yang mendukung pembentukan generasi muda Indonesia yang berkarakter kuat dan berintegritas. (WF)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....