Dampak Fatherless pada Anak Perempuan

  • 15 Okt 2024 15:50 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak perempuan memiliki dampak yang sangat signifikan dalam perkembangan mereka. Kehilangan sosok ayah atau fatherless dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif secara emosional, psikologis, dan sosial. Kehilangan tersebut bukan karena meninggal dunia, melainkan karena kurangnya perhatian sang ayah terhadap anak perempuannya.

Dikutip dari Jurnal Merrimack SchollarWork yang ditulis oleh Carlee Castetter pada Selasa (15/10/2024), menemukan bahwa dampak negatif ketidakhadiran ayah lebih parah terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Semakin dini ketidakhadiran seorang ayah ditemukan dalam kehidupan seseorang, semakin besar dampak buruknya. Dilihat dari teori relasional diri, dampak negatif dari tidak adanya peran ayah terjadi karena sense of self yang belum berkembang dengan baik.

Sense of self merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya dan sejauh mana orang tersebut mengenal dirinya. Proses pengembangan sense of self pada pria dan wanita sangatlah berbeda. Perasaan diri laki-laki lambat laun muncul dari proses “perpisahan” dari orang dewasa di sekitarnya. Selain itu, harga diri wanita ditentukan oleh kualitas hubungannya dengan keluarga, teman, dan jenis hubungan lainnya. Oleh karena itu, kurangnya koneksi antara ayah dan anak perempuan dapat membuat anak perempuan merasa tidak lengkap sebagai individu.

Absennya peran ayah bukan hanya disebabkan oleh ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga mencakup jarangnya komunikasi dan kurangnya waktu yang dihabiskan bersama. Anak-anak seringkali belum memahami dampak negatif dari ketidakhadiran seorang ayah dalam kehidupannya hingga ia beranjak dewasa. Seringkali pengaruh negatif baru disadari ketika mereka terus-menerus dihadapkan pada kegagalan dalam membangun hubungan dengan orang lain, terutama dengan pasangannya.

Dampak anak yang tidak memiliki figur ayah sebagai panduan dalam membangun hubungan dengan lawan jenis bisa mengalami kesulitan. Dampak dari ketidakhadiran seorang ayah dapat mencakup depresi, gangguan makan, aktivitas seksual dini, serta kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan cinta.

Anak perempuan tanpa ayah bisa menghindari interaksi dengan laki-laki atau justru sangat mendambakan perhatian mereka. Anak yang menghindari hubungan romantis mungkin mengalami gaya keterikatan penghindaran, sementara yang sangat mendambakan perhatian bisa mengalami gaya keterikatan ambivalen. Kedua gaya keterikatan ini dapat menyebabkan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dan mapan dengan lawan jenis di masa dewasa, karena kurangnya pengalaman mendapatkan penerimaan dari seorang ayah.

Meskipun ketidakhadiran seorang ayah dapat memiliki efek negatif pada seorang anak, itu tidak berarti bahwa anak tersebut ditakdirkan untuk gagal. Ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk meminimalisir dampak negatif ini, termasuk mengelilingi anak dengan panutan laki-laki alternatif seperti paman atau guru, serta menghindari berbicara buruk tentang ayah kepada anak. Seorang ibu juga memiliki peran besar dalam mengurangi efek negatif ini dan dapat membantu anak pulih dari ketiadaan peran ayah. Menurut seorang konselor, proses penyembuhan ini bisa memakan waktu dan memerlukan dukungan, peralatan, dan kesabaran yang tepat. Meskipun kesedihan ini tidak akan pernah hilang, anak perempuan yang ditinggalkan ayahnya masih dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika dia menyadari bahwa masalahnya bukanlah dirinya, tetapi "ayahnya". Langkah pertama menuju kesembuhanadalah menyadari hal ini.



Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....