Menahan Lisan, Jalan menuju Kebijaksanaan
- 18 Mar 2026 10:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tidak sedikit konflik dalam kehidupan sehari-hari berawal dari perkataan yang terucap tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Kata-kata yang seharusnya sederhana bisa berubah menjadi sumber pertengkaran, bahkan merusak hubungan yang telah lama terjalin.
Dalam program Mutiara Pagi di RRI Malang dengan tema “4 Keutamaan Diam”, Senin (16/3/2026) pagi, Ustadzah Hj. Dewi Latifah menjelaskan bahwa salah satu hikmah terbesar dari sikap diam adalah menjaga kewibawaan dan kehormatan seseorang di hadapan orang lain.
Menurut beliau, orang yang terlalu banyak berbicara sering kali kehilangan kendali atas rahasia dirinya sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, orang yang mampu menahan lisannya biasanya dipandang lebih bijaksana.
“Ketika seseorang berbicara seperlunya, kata-katanya akan lebih dihargai. Ia tidak mudah terjebak dalam pembicaraan yang sia-sia,” jelas beliau.
Selain itu, diam juga memberikan ruang untuk melakukan tafakur atau perenungan. Dalam keadaan tenang, seseorang dapat berpikir lebih jernih dan merenungi kebesaran Allah serta memperbaiki diri.
Ustadzah Dewi Latifah menilai bahwa sikap diam juga relevan dengan kehidupan di era digital. Menurutnya, menahan diri untuk tidak menulis komentar negatif di media sosial termasuk bentuk menjaga lisan di masa kini.
“Diam hari ini tidak hanya soal mulut, tetapi juga menahan jempol agar tidak menulis sesuatu yang menyakiti orang lain,” tambahnya.
“Jika hati bersih, maka diamnya seseorang akan bernilai dzikir, sementara perkataannya akan menjadi nasihat yang membawa kebaikan bagi orang lain.” Jelas beliau menutup dialog dengan pesan bahwa lisan adalah cerminan hati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....