Bangun Karakter Anak Dimulai dari Kebiasaan Mengaji
- 05 Mar 2026 08:30 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Gerakan Kampung Quran di Sudimoro, Kota Malang, berawal dari kegelisahan terhadap kondisi generasi muda di lingkungan tersebut. Salah satu penggagasnya, Mulyani, menilai anak-anak di wilayah itu sebenarnya memiliki akses pendidikan yang sangat terbuka, namun belum banyak yang memanfaatkannya secara optimal.
Menurutnya, kawasan Sudimoro berada di lokasi strategis. Di sekitarnya berdiri sejumlah perguruan tinggi dan pusat pertumbuhan ekonomi. Namun realitas di lapangan menunjukkan masih sedikit anak kampung yang memiliki cita-cita kuat untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Padahal akses kampus itu dekat sekali dari sini. Tapi yang benar-benar punya keinginan kuat untuk kuliah masih sedikit. Banyak yang kurang fokus. Lingkungan sekitar juga cukup ramai dengan kafe dan aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian anak-anak,” ujar Mulyani saat ditemui RRI, Selasa (3/3/2026)
Kondisi tersebut mendorong dirinya bersama sejumlah tokoh masyarakat untuk membangun gerakan berbasis nilai keagamaan. Mereka meyakini penguatan karakter menjadi langkah awal sebelum berbicara lebih jauh tentang prestasi akademik maupun keberhasilan ekonomi.
Dari pemikiran itulah lahir kegiatan NGAOS atau Ngaji On The Street, yang dilaksanakan setiap Jumat ba’da Subuh di sepanjang Jalan Sudimoro.
“Kami ingin membangun dari dalam dulu, dari kebiasaan baik. Kalau karakter sudah kuat, anak-anak akan lebih mudah diarahkan untuk punya cita-cita dan masa depan yang jelas,” katanya.
Kegiatan NGAOS sudah berjalan sekitar tiga setengah tahun dan tercatat lebih dari 130 kali pertemuan tanpa jeda. Setiap pekan, warga membaca satu hingga dua halaman Al-Qur’an bersama dengan pendamping.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti anak-anak, tetapi juga orang tua, termasuk mereka yang sebelumnya belum lancar membaca Al-Qur’an.
“Justru yang belum bisa baca itu yang kami ajak turun. Supaya tidak malu dan tidak canggung. Kami ingin semua merasa dilibatkan,” ucapnya.
Dari kegiatan rutin tersebut, berkembang sembilan Rumah Quran yang tersebar di rumah-rumah warga. Di tempat itu, proses belajar membaca Al-Qur’an dilakukan dengan metode Ummi, dan pengajarnya adalah pemilik rumah sendiri tanpa bayaran.
Menurut Mulyani, perubahan mulai terlihat perlahan. Anak-anak lebih terarah, orang tua lebih terlibat, dan suasana kampung menjadi lebih guyub.
“Kami berharap anak-anak di sini bukan hanya bisa ngaji, tapi juga punya cita-cita tinggi. Sekolahnya baik, hidupnya mapan, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama,” katanya.
Ia menegaskan, Kampung Quran bukan sekadar program keagamaan, tetapi ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....