NGAOS Satukan Warga dan Bangkitkan Semangat Belajar
- 04 Mar 2026 13:45 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Ketua RT 03 Sudimoro sekaligus Bendahara Kampung Quran, Ahmad Suyuti, mengatakan kegiatan NGAOS atau Ngaji On The Streer membawa dampak sosial yang signifikan bagi warga setempat. Ia mengakui, pada awal pembentukan, sempat muncul pro dan kontra di tengah masyarakat.
“Awalnya memang ada yang bertanya, kenapa harus di jalan, kenapa tidak di masjid saja. Itu wajar. Tapi kami ingin kegiatan ini lebih dekat dengan warga, terutama yang belum terbiasa ke masjid,” kata Suyuti kepada RRI, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, tidak semua warga merasa nyaman langsung mengikuti kegiatan di masjid. Dengan konsep mengaji di jalan kampung, suasana menjadi lebih terbuka dan tidak menimbulkan rasa canggung.
“Masjid itu bagi sebagian warga terasa agak jauh. Dengan turun ke jalan, semua bisa ikut. Yang belum bisa ngaji pun tetap duduk bersama. Lama-lama mereka berani belajar,” ujarnya.
Kini, kegiatan NGAOS yang dilaksanakan setiap Jumat ba’da Subuh telah menjadi kebiasaan rutin. Warga dari berbagai latar belakang organisasi keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, dan LDII, ikut terlibat tanpa sekat.
“Sekarang alhamdulillah sudah kompak. Warga antusias. Dulu ada yang belum bisa membaca Al-Qur’an, sekarang sudah bisa,” katanya.
Sebagai pengurus RT, Suyuti menyebut dukungan yang diberikan lebih pada penyediaan fasilitas dan pengelolaan dana secara gotong royong. RT 1, 3, dan 4 menyediakan kursi untuk kegiatan, sementara donasi dari masjid dan warga digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan operasional sederhana.
“Dana kami kumpulkan, lalu dibelanjakan untuk konsumsi, kadang sayur, tempe, atau jajanan untuk anak-anak. Sederhana saja, yang penting kebersamaan,” jelasnya.
Menurutnya, dampak yang paling terasa adalah meningkatnya keakraban antarwarga dan tumbuhnya semangat belajar, baik bagi anak-anak maupun orang tua.
“Harapan kami sederhana, semoga kegiatan ini terus berjalan. Anak-anak bisa ngaji dengan baik, orang tua yang dulu belum bisa sekarang sudah bisa. Yang penting semangat belajar itu tetap ada,” katanya.
Suyuti menilai, gerakan Kampung Quran membuktikan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari tingkat paling kecil, yaitu lingkungan RT, selama ada kemauan dan kebersamaan warga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....