Mutiara Pagi Kupas Makna Turunnya Al-Qur’an
- 03 Mar 2026 06:19 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Program Mutiara Pagi di Radio Republik Indonesia Malang kembali menghadirkan dialog religi dalam rangka menyambut Nuzulul Qur’an. Menghadirkan Ustadz Drs. H. Moh. Rosyad, M.Si., siaran ini mengupas makna turunnya Al-Qur’an serta hikmah yang dapat dipetik umat Islam selama bulan Ramadan. Dialog yang berlangsung hangat tersebut mengajak pendengar memahami peristiwa Nuzulul Qur’an tidak hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai pijakan memperkuat iman.
Dalam pemaparannya, Ustadz Moh. Rosyad menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahapan sebagaimana diterangkan dalam literatur tafsir. “Al-Qur’an pertama kali diturunkan secara sekaligus, lengkap 30 juz, ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 1, ‘Innaa anzalnaahu fii lailatil qadr’ (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan),” jelasnya, Selasa (3/3/2026). Ia menekankan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan kemuliaan Ramadan sebagai bulan diturunkannya wahyu.
Selanjutnya, ia menerangkan bahwa setelah diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. “Penurunan bertahap ini dimulai dengan Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang juga turun di bulan Ramadan. Ini menunjukkan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an,” ujarnya. Proses bertahap itu, lanjutnya, menjadi bukti bahwa Islam hadir secara kontekstual, menjawab persoalan umat secara perlahan namun pasti.
Ia juga menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti waktunya. Hal tersebut justru menjadi rahasia Allah agar umat Islam bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah sepanjang Ramadan. “Allah tidak memberitahu secara pasti kapan Lailatul Qadar agar kita rajin beribadah sejak awal, pertengahan, hingga akhir Ramadan,” katanya. Dengan demikian, semangat beribadah tidak hanya terfokus pada satu malam saja.
Selain itu, Ustadz Rosyad menyinggung perbedaan penentuan 17 Ramadan sebagai peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan bagian dari ijtihad para ulama. “Perbedaan itu bagian dari ijtihad. Selama dilakukan dengan cara yang baik, benar maupun salah tetap berpahala. Yang tidak berpahala adalah yang saling mencela,” tegasnya. Ia pun mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, “Dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudan lil muttaqiin” (Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertakwa). “Maka siapa yang berpegang pada Al-Qur’an, dialah orang bertakwa,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....