Dinkes Kota Batu Pastikan Keamanan Jajanan Takjil Selama Ramadan

  • 02 Mar 2026 18:22 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Batu - Dinas Kesehatan Kota Batu rutin menghelat pemantauan untuk memastikan jajanan yang beredar aman dari kandungan zat berbahaya.

Sejak penghujung Februari, jajaran kesehatan telah melakukan pemantauan di sejumlah lokasi pasar takjil di Kota Batu. Langkah ini diambil guna menjamin keamanan pangan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat sepanjang bulan suci.

Esty Setya Windari, Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Muda dari Dinkes Kota Batu, menjelaskan bahwa pengambilan sampel dilaksanakan pada 24-25 Februari. Berbagai jenis takjil diuji memakai perangkat rapid test untuk mendeteksi potensi zat kimia berisiko.

"Kami memfokuskan pemeriksaan pada empat parameter kimia, yaitu metanil yellow, boraks, formalin, dan rhodamin B. Zat-zat tersebut sering disalahgunakan pedagang untuk memperindah tampilan atau mengawetkan makanan," paparnya, Senin (2/3/2026).

Selain uji kimia, pemeriksaan juga mencakup aspek bakteriologis, khususnya untuk mendeteksi bakteri Escherichia coli (E. coli) yang menjadi tolak ukur kualitas air dan tingkat higienitas dalam proses pengolahan makanan.

Berdasarkan pemetaan, lokasi pasar takjil yang dipantau tersebar di lima wilayah kerja puskesmas, mencakup Jalan Samadi Desa Pesanggrahan, Pusdik Pendem, Balai Desa Junrejo, Desa Tlekung, Desa Oro-oro Ombo, area Stadion Gelora Brantas, hingga Kecamatan Bumiaji.

Esty menekankan, apabila ditemukan indikasi penggunaan bahan berbahaya, petugas tidak serta-merta melakukan penyitaan. Prosedur dimulai dengan uji konfirmasi untuk memverifikasi hasil, sebelum diteruskan ke pemeriksaan laboratorium sebagai tahap pembuktian akhir.

"Pengawasan ini tidak hanya bersifat represif, tetapi juga edukatif. Kami berharap pedagang lebih cermat dalam memilih bahan baku serta menjaga standar kebersihan, agar masyarakat dapat menikmati takjil dengan rasa aman," tegasnya.

Upaya ini merupakan bagian dari langkah preventif Pemerintah Kota Batu untuk meminimalkan risiko kasus keracunan makanan.

"Yang paling utama adalah mempertahankan kepercayaan publik terhadap pasar takjil, yang setiap tahunnya menjadi penggerak ekonomi musiman di bulan Ramadan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....