Salat Tarawih Cepat Blitar, Tradisi Selama 119 Tahun
- 24 Feb 2026 09:57 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Blitar - Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di Masjid Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.
Ratusan jemaah memadati area masjid setiap malam untuk mengikuti salat tarawih yang dikenal singkat, hanya sekitar 10 hingga 13 menit.
Tradisi yang telah berjalan sejak 1907 ini kini memasuki usia 119 tahun. Meski zaman terus berubah, pola pelaksanaan tarawih cepat di pondok yang akrab disebut Pondok Mantenan itu tetap dipertahankan.
Sejak usai berbuka puasa, jemaah mulai berdatangan. Bahkan sebelum adzan isya berkumandang, saf-saf di dalam masjid sudah terisi penuh. Sebagian jemaah terpaksa menggelar sajadah di halaman karena kapasitas ruang utama tak lagi mencukupi.
Rangkaian salat isya, tarawih 20 rakaat, hingga witir 3 rakaat diselesaikan dalam waktu kurang dari seperempat jam. Durasi inilah yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik utama.
Romadoni (31), salah satu jemaah, mengaku hampir setiap Ramadan memilih tarawih di tempat tersebut. Menurutnya, suasana ramai dan kekompakan jemaah menjadi alasan tersendiri.
"Selain cepat, suasananya ramai dan bikin semangat," ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Pengasuh pondok, KH Muhammad Dliya’uddin Azzamzami atau Gus Dliya’, menjelaskan tradisi ini bermula dari inisiatif pendiri pondok, Mbah Abdul Ghofur. Pada masa itu, mayoritas warga sekitar berprofesi sebagai petani dan pekerja dengan waktu terbatas, bahkan sebagian masih mualaf.
Agar jemaah tetap semangat beribadah, tempo salat kemudian dipercepat tanpa mengurangi rukun maupun sunah. Bacaan Alfatihah dan surat tetap dibaca lengkap, hanya ritmenya yang lebih cepat.
"Rukun dan sunah tidak ada yang ditinggalkan. Hanya temponya saja yang dipercepat," jelasnya.
Menurutnya, durasi rata-rata berkisar 13 hingga 15 menit. Namun jika imam yang memimpin masih muda dan memiliki stamina prima, salat bisa selesai sekitar 10 menit.
Hingga kini, tarawih cepat Pondok Mantenan tak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga jemaah dari luar daerah seperti Kediri dan Tulungagung. Tradisi lebih dari satu abad ini pun terus menjadi magnet setiap Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....