Tiga Potong Roti dan Hikmah Kepedulian Rasulullah
- 21 Feb 2026 07:54 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kisah-kisah hikmah keteladanan Nabi Muhammad menjadi tema dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang, Sabtu (21/22026) bersama Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang, Ustadzah Lailatul Fithriyah A., S.H.I., M.Pd.I. Materi yang disampaikan disadur dari buku karya penulis Palestina, Adam Sarkowi, yang menggambarkan bagaimana Rasulullah bukan hanya menjadi teladan dalam ibadah, tetapi juga dalam penanaman akhlak dan kehidupan sosial bersama para sahabat.
Salah satu kisah yang diangkat adalah peristiwa ketika Rasulullah sedang dalam keadaan lapar. Saat itu beliau berjumpa dengan sahabatnya, Anas bin Malik. Mengetahui kondisi Rasulullah, Anas segera mendatangi Abu Thalhah al-Ansari dan menyampaikan bahwa Rasulullah sedang lapar.
Abu Thalhah kemudian menemui istrinya, Ummu Sulaim. Ia berkata bahwa mereka hanya memiliki tiga keping roti gandum, yang cukup untuk tiga orang saja. Tidak ada hidangan lain.
Sementara itu, Anas kembali menemui Rasulullah yang sedang duduk di masjid bersama beberapa orang sahabat. Rasulullah bertanya apakah Anas telah bertemu Abu Thalhah dan apakah ia akan memberikan makanan. Anas menjawab, “Iya.”
Mendengar hal tersebut, Rasulullah justru mengajak beberapa orang untuk ikut menuju rumah Abu Thalhah. Keadaan ini membuat Abu Thalhah kebingungan. Ia panik karena makanan yang ada sangat terbatas, sedangkan tamu yang datang cukup banyak. Ia berkata kepada istrinya, “Kita tidak punya apa-apa. Hanya tiga keping roti. Ini tidak cukup.”
Namun Ummu Sulaim bersikap tenang. Ia meyakini bahwa Allah lebih mengetahui dan akan memberikan jalan. Roti itu dipotong-potong kecil, kemudian dituangkan kuah dan dicampur agar terlihat lebih banyak.
Setelah itu Rasulullah berdoa memohon keberkahan kepada Allah. Beliau meminta agar sepuluh orang terlebih dahulu masuk untuk makan. Setelah selesai, sepuluh orang berikutnya dipersilakan masuk, dan begitu seterusnya hingga diriwayatkan sekitar 70 orang menikmati hidangan tersebut. Ajaibnya, makanan itu tidak berkurang.
Ustadzah Lailatul Fithriyah menekankan bahwa kisah ini menunjukkan cinta dan kepedulian para sahabat kepada Rasulullah. Mereka tetap mengundang dan menjamu beliau meski dalam keterbatasan.
Kisah tersebut juga dikorelasikan dengan kondisi sosial saat ini. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh dengan kendaraan mewah. Namun di sisi lain, masih banyak orang miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Di tengah kesenjangan sosial hari ini, ketika di satu sisi kita melihat kemewahan, di sisi lain masih banyak saudara yang kekurangan, langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah segera menolong sebelum mereka terpaksa meminta-minta,” ujarnya.
Kisah ini juga dikaitkan dengan makna puasa. Anak-anak sering bertanya mengapa kita diperintahkan berpuasa. Puasa mengajarkan rasa syukur ketika berbuka, sekaligus empati terhadap mereka yang kekurangan, termasuk saudara-saudara Muslim di Palestina yang hidup dalam kondisi sulit tanpa kepastian makanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....