Piala Dunia 2026 Jadi Momentum Menumbuhkan Sportivitas

  • 28 Jun 2026 12:29 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Di balik kemeriahan Piala Dunia 2026, terdapat nilai penting yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih besar dibanding sekadar hasil pertandingan, yakni sportivitas. Turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga ruang untuk menunjukkan bagaimana olahraga mampu menyatukan berbagai bangsa dan budaya dalam suasana yang damai.

Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Muarifin, mengatakan sepak bola memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Dalam banyak pertandingan Piala Dunia, para suporter dari negara yang berbeda tetap dapat menikmati pertandingan bersama meskipun mendukung tim yang berseberangan.

“Sepak bola adalah olahraga yang dilakukan dengan sportivitas dan mampu mempersatukan banyak orang. Kita bisa melihat suporter dari dua tim yang berbeda duduk berdampingan, meneriakkan yel-yel masing-masing, tetapi tetap akrab dan saling menghormati,” jelasnya kepada RRI Malang pada Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, sportivitas harus menjadi nilai utama yang diwariskan dari setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Fair play tidak hanya berlaku bagi pemain di lapangan, tetapi juga bagi suporter, media, federasi, hingga masyarakat yang menikmati pertandingan. Karena itu, semua pihak memiliki tanggung jawab menjaga atmosfer kompetisi tetap sehat.

Dr. Muarifin juga menilai media memiliki peran penting sebagai salah satu unsur pentahelix pembangunan olahraga. Pemberitaan yang proporsional dan berimbang dapat membantu menjaga semangat fair play sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang nilai-nilai positif yang terkandung dalam olahraga.

Momentum Piala Dunia 2026, lanjutnya, juga dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan untuk menanamkan karakter sportif kepada generasi muda. “Pendidik dan guru harus kreatif. Banyak contoh kasus dari Piala Dunia yang bisa dijadikan bahan pembelajaran di sekolah maupun kampus untuk mengajarkan sportivitas, kerja sama, dan rasa hormat kepada orang lain,” tuturnya.

Menutup pandangannya, Dr. Muarifin berharap masyarakat Indonesia dapat menikmati euforia Piala Dunia secara dewasa. Ia menilai pengalaman masa lalu, termasuk berbagai tragedi dalam dunia sepak bola nasional, harus menjadi pelajaran agar olahraga ini semakin berfungsi sebagai sarana edukasi, persatuan, dan pembentukan karakter bangsa. Dukungan terhadap kemajuan sepak bola Indonesia, termasuk target tampil di Piala Dunia 2030, menurutnya harus dibangun di atas fondasi sportivitas dan kedewasaan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....