Olahraga bridge memiliki nilai strategis yang tinggi bagi generasi muda dan melatih kemampuan berpikir cepat, analisis data, hingga pengambilan keputusan dalam waktu singkat (Foto: RRI/RIzky)
RRI.CO.ID, Malang - Atlet nasional bridge Indonesia, Bert Toar Polli, menjelaskan bahwa olahraga bridge memiliki nilai strategis yang tinggi bagi generasi muda. Ia menilai permainan ini melatih kemampuan berpikir cepat, analisis data, hingga pengambilan keputusan dalam waktu singkat.
Menurutnya, bridge bukan sekadar permainan kartu biasa, melainkan olahraga berbasis manajemen. Pemain dituntut mampu mengumpulkan, mengolah, dan memutuskan langkah secara tepat dalam situasi terbatas.
"Permainannya ini sebenarnya bagus untuk anak muda, karena ini menyangkut manajemen, jadi kita harus mencari data, mengolah data, kemudian memutuskan hanya dalam waktu singkat," ujar Bert, Minggu (12/4/2026).
Selain itu, bridge juga mengedepankan kerja sama tim yang solid antar pasangan. Kemampuan empati menjadi kunci penting agar strategi yang dijalankan bisa selaras.
"Kita harus pintar, harus bisa berempati dengan pasangan karena ini kerjasama antara dua orang," ungkapnya. Ia menegaskan bahwa aspek tersebut menjadi keunggulan utama dalam olahraga bridge.
Bert juga menyebut bridge kini semakin berkembang secara global karena dapat dimainkan secara online maupun offline. Bahkan, ada upaya untuk memasukkan bridge sebagai bagian dari e-sport.
"Di dunia juga salah satu olahraga yang bisa secara online dan offline itu bridge, malah sekarang ada usaha untuk memasukkan ke dalam e-sport," jelasnya. Ia menambahkan bridge termasuk dalam kategori olahraga otak bersama catur dan permainan strategi lainnya.
Selain meningkatkan kecerdasan, bridge juga bermanfaat bagi kesehatan otak. Aktivitas berpikir yang terus dilatih dinilai mampu mencegah kepikunan, terutama bagi usia lanjut.
Terkait perkembangan di Indonesia, Bert berharap bridge semakin populer di masyarakat. Ia menyoroti Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang menjadi motor penggerak perkembangan olahraga ini.
"Harapannya bridge itu semakin populer di masyarakat, terutama memang di Jawa Timur ini adalah motor," pungkasnya. Ia juga mengapresiasi masuknya bridge ke lingkungan pendidikan, termasuk madrasah.
Menurutnya, stigma negatif terhadap bridge sebagai permainan judi kini mulai hilang. Hal ini terlihat dari semakin beragamnya peserta, termasuk perempuan berhijab yang ikut bertanding.
"Kalau kita menonton pertandingan bridge sekarang, banyak peserta putri yang memakai jilbab, jadi sama sekali tidak ada judi," terangnya. Ia optimistis citra positif ini akan mendorong minat generasi muda untuk mengenal bridge lebih jauh.