Koloke: Resep Tionghoa yang Bertahan di Meja Makan Indonesia

  • 20 Agt 2026 12:37 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Potongan daging yang digoreng hingga renyah, kemudian disiram saus asam manis, membuat koloke menjadi salah satu hidangan yang cukup akrab di meja makan masyarakat Indonesia. Di balik cita rasanya yang familiar, koloke menyimpan perjalanan kuliner yang panjang, dari pengaruh masakan Tionghoa hingga beradaptasi dengan selera masyarakat Indonesia.

Koloke juga dikenal dengan sebutan kuluyuk atau keluyuk. Hidangan ini umumnya dibuat dari potongan daging yang dibalut tepung, digoreng hingga renyah, kemudian disajikan bersama saus asam manis. Di Indonesia, bahan utamanya pun berkembang, mulai dari ayam, ikan, hingga udang.

Dalam sejumlah referensi kuliner, koloke disebut memiliki padanan dalam masakan Tionghoa bernama Gou Lao Rou. Ketika berkembang di Indonesia, hidangan tersebut mengalami berbagai penyesuaian, termasuk penggunaan ayam yang lebih mudah ditemukan dan sesuai dengan selera masyarakat setempat.

Perubahan itu tidak hanya terjadi pada bahan utama. Resep koloke juga berkembang dari satu dapur ke dapur lainnya. Saus asam manis, misalnya, dapat dibuat dengan tambahan nanas, wortel, paprika, mentimun, atau bahan lain sesuai selera.

Salah satu versi yang banyak dikenal adalah koloke ayam. Potongan ayam terlebih dahulu dibumbui, kemudian dibalut dengan adonan tepung sebelum digoreng hingga bagian luarnya renyah. Setelah itu, ayam disiram dengan saus yang memadukan rasa manis, asam, dan gurih.

Untuk membuat sausnya, bawang ditumis terlebih dahulu hingga harum. Selanjutnya ditambahkan saus tomat, gula, sedikit cuka, serta air. Potongan wortel dan nanas dapat dimasukkan untuk memberikan rasa sekaligus tekstur. Setelah saus mengental, ayam goreng kemudian dicampurkan atau disiram dengan saus tersebut.

Namun, resep koloke di setiap keluarga bisa memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang menyukai saus lebih manis, ada yang memperkuat rasa asam, sementara sebagian lainnya justru mempertahankan resep sederhana yang sudah dibuat sejak generasi sebelumnya.

Bagi sebagian keluarga, proses memasak koloke juga menjadi cara untuk meneruskan pengetahuan. Takaran bumbu terkadang tidak tertulis dalam buku resep, melainkan diwariskan melalui kebiasaan melihat dan mencoba. Dari cara memilih bagian ayam, membuat adonan tepung, hingga memastikan teksturnya tetap renyah, semuanya dipelajari melalui pengalaman.

Di titik inilah koloke tidak lagi sekadar hidangan. Resep yang diwariskan dari orang tua kepada anak menjadi bagian dari ingatan keluarga. Cara memasak boleh berubah mengikuti selera generasi baru, tetapi rasa dan cerita di baliknya tetap berusaha dipertahankan.

Koloke menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat melakukan perjalanan lintas budaya, beradaptasi dengan lingkungan baru, sekaligus tetap mempertahankan identitas rasanya. Dari hidangan yang memiliki akar kuliner Tionghoa, koloke kemudian menjadi bagian dari keragaman makanan yang dikenal masyarakat Indonesia.

Sebab ketika sebuah resep diwariskan, yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya bukan hanya bahan dan cara memasaknya. Ada pengalaman, kebiasaan, serta kenangan keluarga yang ikut tersaji bersama makanan di atas meja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....